Rindu dan Antusias, Ramadan Pertama di Tanah Rantau

  • 18 Feb 2026 16:50 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak-Masyarakat mulai melaksanakan ibadah puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah dengan penuh khidmat. Di berbagai daerah, suasana sahur pertama terasa istimewa, masjid-masjid kembali ramai, lantunan ayat suci terdengar sejak dini hari, dan kebersamaan terasa meski sebagian harus menjalaninya jauh dari kampung halaman. Di Biak Numfor Papua, denyut Ramadan juga mulai terasa. Sejak malam pertama tarawih, warga berbondong-bondong memenuhi masjid, sementara pasar Ramadan mulai dipadati masyarakat yang berburu takjil untuk berbuka puasa. Namun, di balik semarak itu, ada cerita para perantau yang menjalani puasa pertama tanpa keluarga tercinta.

Dinar misalnya. Tahun ini menjadi pengalaman pertamanya berpuasa jauh dari orang tua karena kini ia berada di pulau yang berbeda. Perasaannya campur aduk antara sedih dan antusias.

“Kalau perasaan sih pastinya ada sedihnya ya, karena sebenarnya bukan pertama kali, cuman pertama kali jauh dari orang tua puasanya karena udah beda pulau, jadi sedih. Tapi ada excitednya, karena kan di sini pengen ngerasain Ramadan di sini tuh kayak gimana, jadi ada excitednya juga ada. Kalau sedih sama excitednya sih sebenarnya 50-50 ya, jadi tetep enjoy aja sih ngejalaninnya, semoga nanti Ramadan bisa enjoy,” ujarnya Rabu 18 Februari 2026.

Rasa rindu itu tak ia pungkiri, terutama saat membayangkan momen sahur dan berbuka bersama keluarga. Namun sebagai perantau, Dinar memilih mempersiapkan diri dengan lebih matang, terutama soal logistik dan kesehatan.

“Kalau untuk persiapan, mungkin lebih banyak stok makanan-makanan, supaya nanti kalau sahur tuh enak, nggak bingung lagi mau makan apa, nanti buka juga mau makan apa, jadi nggak bingung. Jadi stoknya cuman di makanan sama yang paling utama adalah kesehatan, itu harus, karena kalau nanti takutnya di tengah jalan ada asam lambung atau apa, jadi kesehatan dulu disiapin, minum obat lambung, terus biar ibadah kita juga lancar, itu aja sih persiapan,” jelasnya.

“Harapannya semoga di Ramadan kali ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bisa memaksimalkan segala ibadah-ibadahnya, dan bukan hanya waktu di bulan Ramadan untuk memaksimalkan ibadahnya, tapi setelahnya untuk bisa lebih rajin lagi, bisa istiqomah dalam menjalankan ibadah-ibadah selama Ramadan dan setelah Ramadan,” tambahnya

Hal serupa dirasakan Huda. Ramadan di perantauan menurutnya adalah pelajaran tentang kemandirian dan kesabaran. Meski jauh dari keluarga, Huda berharap Ramadan justru menguatkan dirinya, bukan melemahkan.

“Hari pertama puasa sebagai berantau rasanya campur aduk sih, ada rindu rumah, rindu sahur, dan buka bersama keluarga, tapi dibalik itu ada pelajaran tentang mandiri, sabar, dan bersyukur,” ujarnya

“Harapannya sih kalau dari saya, puasa di perantauan ini bisa membuat saya lebih sabar, lebih kuat, dan tetap konsisten menjalankan ibadah, meskipun jauh dari keluarga. Semoga Ramadan ini membawa keberkahan dan kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar,” ucapnya

Berbeda lagi dengan Bela. Bela justru melihat Ramadan pertamanya di tanah rantau sebagai pengalaman yang menggembirakan. Ia mengaku antusias dengan suasana Ramadan di Biak, terutama dengan hadirnya pasar Ramadan yang selalu ramai menjelang berbuka. Ramadan kali ini juga menjadi momen spesial bagi Bela karena ia menjalaninya sebagai seorang ibu rumah tangga, mengurus sahur dan berbuka untuk keluarga kecilnya. Harapannya sederhana namun bermakna.

“Persiapan saya sebagai perantau kurang lebih ya, excited sih sama suasana di Biak, terutama ada pasar Ramadan, yang biasanya rame banget, terus di sini saya juga puasa pertama sebagai ibu rumah tangga, jadi persiapannya masak-masak mungkin sama suami dan keluarga kecil, gitu aja sih,” ucapnya

“Harapan saya semoga bulan puasa ini puasanya full, kemudian makin meningkatkan iman dan taqwa, kurang-kurang ghibah, dan semoga makin rajin sholatnya, amin,” jelasnya

Di tanah rantau, Ramadan memang terasa berbeda. Seiring masyarakat memulai ibadah puasa 1 Ramadan 1447 H, ada rindu yang tak terucap, ada tantangan yang harus dihadapi sendiri, namun juga ada semangat baru yang tumbuh.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan memperbaiki diri. Di antara kesederhanaan sahur seadanya dan buka puasa tanpa keluarga besar, mereka belajar tentang arti sabar, syukur, dan keteguhan hati. Dan di kota kecil di timur Indonesia itu, Ramadan tetap hadir membawa harapan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita