Anak Tidak Seharusnya Ikut Menanggung Beban Ekonomi Keluarga
- 10 Feb 2026 04:49 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Masalah ekonomi kerap menjadi tekanan besar dalam keluarga. Namun, psikolog mengingatkan bahwa anak tidak seharusnya ikut menanggung beban ekonomi keluarga, terutama ketika hal tersebut berdampak pada kesehatan mental dan proses tumbuh kembang mereka. Psikolog klinis anak Reti Oktania, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa anak berada pada fase perkembangan yang membutuhkan rasa aman, stabilitas emosional, dan dukungan lingkungan. Ketika anak ikut dibebani kecemasan finansial orangtua, kondisi psikologisnya menjadi rentan.
“Anak tidak memiliki kewajiban untuk memahami, apalagi bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga. Itu bukan tugas perkembangan mereka,” ujar Reti saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Banyak orangtua berusaha melindungi anak dengan tidak membicarakan masalah keuangan secara terbuka. Namun, menurut Reti, anak tetap bisa merasakan tekanan yang terjadi di rumah. Dalam situasi ekonomi yang sulit, anak dapat merasa berbeda dari teman-temannya, khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah, atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena merasa menjadi beban keluarga. Demikian mengutip laman kompas.com.
Reti menjelaskan bahwa membebani anak dengan persoalan ekonomi dapat memicu berbagai risiko kesehatan mental. Anak bisa mengalami kecemasan berlebihan, perasaan bersalah, hingga penurunan harga diri. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut berpotensi berkembang menjadi gejala depresi, seperti murung berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, serta munculnya pikiran negatif tentang diri sendiri.
Meski demikian, Reti menegaskan bahwa memperkenalkan konsep keuangan pada anak tetap penting, asalkan dilakukan secara sesuai usia dan kapasitas perkembangan. Pada anak usia dini, orangtua bisa mengenalkan konsep dasar uang melalui aktivitas sederhana, seperti memilih barang sesuai harga. Memasuki usia sekolah, anak dapat diajak belajar menabung atau membuat tujuan finansial jangka pendek. Namun, hal ini berbeda dengan membebani anak dengan kecemasan finansial keluarga, seperti mengeluhkan pengeluaran, utang, atau keterbatasan ekonomi secara berlebihan.