Tanggal 5 Januari Pembunuhan Berantai Dokter Asal Inggris Terungkap
- 05 Jan 2026 14:37 WIB
- Biak
KBRN, Biak : Temuan mengejutkan dari catatan medis milik Harold Shipman, seorang mantan dokter umum di Inggris, mengungkap banyaknya pasien yang telah dibunuh dengan suntikan mematikan. Meski ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan sejumlah 15 kasus pembunuhan. Laporan lain mengungkap bahwa ia kemungkinan telah membunuh lebih dari 300 pasien pada 5 Januari 2001.
Laporan yang membongkar kejahatan Shipman ini dari laporan Departemen Kesehatan Inggris yang membandingkan catatan medisnya dengan praktik dokter umum lain. Berdasarkan isi laporan tersebut, tercatat bahwa ia membunuh sedikitnya 236 pasien, dilansir dari BBC, Senin (5/1/2026).
Tempat ia melakukan praktik di Hyde, Greater Manchester, telah berjalan selama lebih dari 25 tahun yang kini dikenal sebagai salah satu pembunuh berantai dengan korban paling banyak. Profesor Richard Baker dari Universitas Leicester, juga melakukan pemeriksaan catatan medisnya menyebut bahwa terdapat pola yang jelas dalam kematian pasien-pasiennya. Keadaan pasien Shipman setelah bertemu dengannya menunjukkan perubahan aneh, di mana mereka lebih sering meninggal secara tiba-tiba, ada yang lebih banyak meninggal di rumah, dan umumnya berusia lanjut yang sebagian besar adalah perempuan. Demikian mengutip llaman liputan.com.
Begitu banyak korban yang ternyata menyerang perempuan karena lebih sering tinggal sendirian sehingga memberi kesempatan kepada Shipman yang membunuhnya dengan suntikan berupa diamorfin, yang mengakibatkan para pasiennya mengalami gangguan pernapasan, sebagaimana yang dilansir dari The Guardian.
Kasus ini pun menjadi trauma bagi pasien untuk berobat, sehingga mulai musim gugur akan dijalani pemeriksaan catatan kriminal dokter umum secara dipaksa. Selain itu, menurut Ann Alexander, pengacara yang mewakili hingga 200 keluarga korban menyimpulkan bahwa pembunuhan Shipman akibat dorongan psikologis untuk menguasai dan mengendalikan kehidupan para pasiennya.
Laporan psikiatri telah menguatkan kondisi Shipman, di mana ia menikmati detik-detik orang menjelang ajalnya, mengingat pengalaman dari kematian sang ibu karena kanker saat dirinya berusia 17 tahun dan melihatnya menerima suntikan morfin sebagai pereda rasa sakit. Sehingga pola pembunuhan ini diyakini dari pengalaman tersebut yang berkembang menjadi motif di balik pembunuhan berantai.