Teknologi Makin Canggih, Mengapa Profesi Penerjemah Tetap Dibutuhkan?
- 30 Sep 2026 15:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Penerjemahan Internasional diperingati setiap tanggal 30 September untuk mengapresiasi peran profesional bahasa dan penerjemah di seluruh dunia.
- Terjemahan dan penjurubahasaan membantu masyarakat memahami informasi serta menukar pengetahuan budaya dari berbagai negara.
- Profesi penerjemah memiliki peran strategis dalam memfasilitasi komunikasi lintas budaya dan internasional di era globalisasi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Penerjemahan Internasional diperingati setiap 30 September sebagai momentum untuk menghargai peran profesional bahasa di dunia. Melalui terjemahan dan penjurubahasaan, masyarakat dapat terbantu dalam memahami informasi serta budaya dari berbagai negara.
Di era digital, perkembangan teknologi menghadirkan berbagai alat penerjemahan yang memudahkan masyarakat memahami bahasa asing. Pengguna dapat memasukkan teks yang ingin diterjemahkan dengan menggunakan Google Translate atau DeepL.
Teknologi juga membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien, terutama ketika harus menangani teks dalam jumlah besar. Namun, peran teknologi hanyalah sebagai alat bantu, bukan menyerahkan proses penerjemahan kepada mesin.
"Meskipun aplikasi terjemahan seperti Google Translate telah terbukti berguna untuk interaksi lintas bahasa, hasil terjemahannya tidak selalu akurat. Hal ini menjadi perhatian dalam urusan kesehatan, hukum, dan bisnis yang membutuhkan ketepatan makna," ujar Salvador Ordorica, CEO Layanan Terjemahan Internasional Kelas Satu The Spanish Group LLC, dikutip dari Forbes, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Penerjemahan tidak selalu sekadar mengubah kata dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Melansir dari Transloka Lingua, mesin penerjemah tercatat masih kurang akurat ketika menghadapi idiom, slang, dan kolokasi dalam kalimat.
Konteks menjadi salah satu alasan utama manusia masih diperlukan dalam proses penerjemahan. Penerjemah manusia mampu memahami konteks sehingga tidak hanya menerjemahkan setiap kata secara harfiah.
"Penerjemahan harfiah sering gagal menyampaikan makna yang tepat, sehingga terjemahannya aneh atau bahkan berbahaya," katanya. Pada 2019, Google Translate diuji dalam lingkungan medis, dan akurasinya hanya sekitar 92 persen.
Perbedaan konteks bahkan dapat mengubah arti sebuah kata atau ungkapan secara signifikan. Melansir dari Universitas Ma'soem, penggunaan kata tertentu dapat memiliki makna berbeda berdasarkan variasi bahasa dan relevansi yang berlaku.
Kemampuan memahami budaya juga membuat penerjemah manusia memiliki peran yang sulit digantikan mesin. Penerjemah perlu mempertimbangkan nuansa bahasa, slang, nada, intensi, dan wawasan budaya.
Dokumen penting juga membutuhkan ketelitian karena kesalahan terjemahan dapat mengubah informasi yang ingin disampaikan. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang penerjemah tersumpah untuk menangani dokumen resmi yang membutuhkan keakuratan dan keabsahan hukum.
Selain keakuratan, hasil terjemahan juga perlu terdengar alami ketika dibaca oleh penutur bahasa sasaran. Penerjemah manusia dapat memastikan hasil terjemahan memiliki aspek akurasi, dapat diterima, dan dapat dibaca.
Lebih lanjut, perangkat penerjemah masih memiliki keterbatasan dalam mengidentifikasi kesalahan pada tulisan sumber. Penerjemah juga dapat menemukan kesalahan yang terdapat dalam teks sumber sebelum menghasilkan terjemahan akhir.
Aspek kreativitas menjadi tantangan lain bagi teknologi ketika menerjemahkan karya yang mengandung unsur seni. Penerjemah berpengalaman dapat memahami makna tulisan yang tidak sekadar mengikuti algoritma.
Karena itu, teknologi tetap belum bisa menggantikan peran penerjemah dalam industri bahasa. Perkembangan teknologi justru dapat berjalan berdampingan dengan keahlian manusia untuk menghasilkan terjemahan berkualitas. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....