Ketahui Perbedaan El Nino dan La Nina serta Dampaknya bagi Indonesia
- 17 Sep 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- El Niño dan La Niña adalah dua fenomena iklim yang berasal dari kawasan Samudra Pasifik tropis yang dapat memengaruhi pola cuaca Indonesia.
- Kedua fenomena tersebut merupakan bagian dari El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang terjadi secara alami dan berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut.
- ENSO dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer Pasifik, yang berdampak pada curah hujan dan kondisi hidrologi di Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - El Nino dan La Nina merupakan dua fenomena iklim yang berasal dari kawasan Samudra Pasifik tropis. Keduanya dapat memengaruhi pola cuaca Indonesia, terutama curah hujan dan kondisi hidrologi.
Kedua fenomena tersebut merupakan bagian dari El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang terjadi secara alami. ENSO berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer Pasifik.
El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut Pasifik bagian tengah dan timur menghangat melebihi kondisi normal. Pemanasan laut tersebut kemudian memengaruhi angin pasat yang berperan dalam mengatur distribusi panas dan pembentukan awan.
Melansir Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan (BHLK), pelemahan angin pasat membuat pembentukan awan dan hujan bergeser menjauhi Indonesia. Kondisi itu membuat Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan selama periode El Nino.
El Nino juga dapat meningkatkan risiko kekeringan ketika curah hujan menurun. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi kelangkaan air serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sementara itu, La Nina menunjukkan kondisi yang berlawanan dengan El Nino. Saat La Nina terjadi, suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur menjadi lebih dingin.
Pendinginan tersebut biasanya memengaruhi sirkulasi atmosfer dan memperkuat angin pasat di kawasan tropis. Penguatan angin pasat mendorong lebih banyak massa air hangat menuju wilayah Indonesia.
Peningkatan pembentukan awan kemudian membuat curah hujan Indonesia cenderung meningkat selama La Nina. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peningkatan curah hujan umumnya mencapai 20 hingga 40 persen periode tertentu.
Kondisi yang lebih basah tersebut dapat meningkatkan debit sungai dan genangan di sejumlah wilayah. La Nina juga meningkatkan potensi banjir dan tanah longsor pada daerah rawan.
El Nino dan La Nina biasanya berlangsung dalam periode tertentu dengan waktu yang tidak selalu sama setiap siklus. Kedua fenomena tersebut umumnya muncul secara bergantian dalam rentang dua hingga tujuh tahun.
El Nino pada periode SON (September, Oktober, November) cenderung menurunkan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu, La Nina meningkatkan curah hujan terutama di wilayah tengah hingga timur Indonesia.
Meski demikian, El Nino tidak berarti Indonesia sama sekali tidak mengalami hujan selama fenomena tersebut. Beberapa wilayah tetap mengalami peningkatan curah hujan pada periode tertentu.
Begitu pula dengan La Nina yang tidak berarti seluruh wilayah Indonesia mengalami hujan sepanjang waktu. Peningkatan curah hujan dapat menciptakan kondisi yang sering disebut sebagai kemarau basah. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....