Bagaimana Kapal Bisa Mengapung di Laut? Ini Penjelasannya
- 17 Sep 2026 09:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kapal mengapung karena prinsip Archimedes.
- Ruang kosong dalam lambung membuat massa jenis rata-rata kapal lebih rendah sehingga kapal dapat bertahan di permukaan air.
- Penambahan muatan membuat kapal masuk lebih dalam, sedangkan distribusi muatan yang tidak tepat atau kebocoran dapat menyebabkan kapal kehilangan kestabilan hingga tenggelam.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kapal menjadi salah satu sarana transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah melalui jalur laut. Dengan ukuran dan bobot yang besar, kapal tetap mampu bergerak serta mengapung di permukaan laut.
Fenomena kapal mengapung berkaitan dengan prinsip Archimedes yang menjelaskan hubungan antara gaya apung dan volume air. Prinsip Archimedes menjelaskan bahwa benda dalam cairan menerima gaya ke atas sebesar berat cairan yang dipindahkannya.
Melansir dari Universitas STEKOM, gaya tersebut muncul ketika lambung kapal mendorong air ke samping dan bawah. Kapal dapat mengapung ketika gaya apung air setidaknya menyamai berat total kapal.
Ketika kapal masuk ke laut, bagian lambung yang berada dalam air memindahkan sejumlah volume air. Air yang terdorong tersebut kemudian memberikan gaya ke atas pada lambung kapal.
Semakin banyak bagian lambung masuk ke dalam air, semakin banyak air yang dipindahkan kapal. Kondisi tersebut meningkatkan gaya apung hingga mencapai keseimbangan dengan berat kapal secara keseluruhan.
Ruang kosong dalam lambung kapal yang berisi udara membantu menurunkan massa jenis rata-rata keseluruhan kapal. Melansir Universitas Negeri Surabaya, keberadaan udara membuat kepadatan rata-rata kapal dapat lebih rendah daripada air laut.
Kepadatan rata-rata menentukan kemampuan kapal untuk mempertahankan posisi di permukaan laut selama pelayaran. Kapal dapat mengapung ketika kepadatan keseluruhannya sesuai dengan kondisi yang memungkinkan gaya apung menahan berat.
Berat kapal dapat berubah ketika bahan bakar, perlengkapan, penumpang, atau muatan ditambahkan ke dalam kapal. Penambahan muatan membuat kapal masuk lebih dalam sehingga volume air yang dipindahkan bertambah.
Proses tersebut berlangsung sampai gaya apung kembali menyeimbangkan berat total kapal dalam batas rancangan. Karena itu, kapal yang membawa muatan lebih banyak biasanya memiliki posisi lambung lebih rendah di permukaan laut.
Selain kemampuan mengapung, kapal membutuhkan stabilitas agar tetap seimbang ketika menghadapi gelombang dan perubahan distribusi muatan. Penempatan muatan yang tidak tepat dapat membuat kapal miring dan kehilangan kestabilan.
Kapal juga dapat tenggelam ketika kondisi tertentu mengganggu kemampuan lambung menghasilkan gaya apung yang memadai. Kebocoran atau masuknya air ke ruang berisi udara dapat meningkatkan berat kapal. (Shafa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....