Sering Disangka Kalajengking, Ini Fakta Menarik Hewan Ketonggeng

  • 12 Sep 2026 09:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketonggeng atau ketungging sering disalahpahami sebagai kalajengking karena kesamaan penampilan fisik, meskipun keduanya adalah makhluk berbeda.
  • Hewan ini termasuk arakhnida ordo Thelyphonida dan juga dikenal dengan nama kalajengking cambuk di kalangan peneliti.
  • Ketonggeng tidak berbahaya bagi manusia dan justru memiliki peran ekologis penting dalam mengendalikan populasi hama secara alami.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketonggeng sering disangka kalajengking karena penampilannya mirip. Padahal, hewan ini tidak berbahaya dan justru membantu mengendalikan hama.

Melansir dari Mongabay, ketonggeng atau ketungging termasuk arakhnida ordo Thelyphonida. Hewan ini dikenal pula sebagai kalajengking cambuk.

Ketonggeng punya delapan mata, tetapi penglihatannya buruk. Ia mengandalkan indera peraba, terutama saat gelap.

Ekornya panjang dan ramping, menyerupai gagang cambuk. Tubuhnya berwarna cokelat hingga kehitaman.

Melansir dari Klopmart, ketonggeng menyukai tempat gelap dan lembap. Biasanya hewan ini sering bersembunyi di bawah batu, kayu, atau daun gugur.

Ketonggeng juga dapat ditemukan di kebun dan hutan. Tak jarang, hewan yang mirip dengan kalajengking itu masuk ke dalam rumah.

Fakta lainnya, ketonggeng merupakan hewan nokturnal yang aktif berburu pada malam hari. Ia termasuk karnivora yang mencari mangsa dalam gelap.

Mangsanya antara lain kecoa, jangkrik, rayap, dan laba-laba. Adapun mangsa lainnya seperti cacing, siput, serta serangga.

Ketonggeng betina dapat menghasilkan 30–40 telur. Induk menjaga telur tersebut hingga menetas.

Setelah menetas, nimfa tinggal di punggung induk sekitar satu bulan. Setelah itu, mereka mulai hidup mandiri.

Ketonggeng menangkap mangsa menggunakan pedipalpus. Mangsa lalu dibawa ke rahang untuk dimakan.

Kebiasaan ini membuat ketonggeng berperan sebagai predator alami. Ia membantu mengontrol populasi hewan kecil di sekitarnya.

Saat terancam, ketonggeng menyemprotkan cairan pertahanan. Cairan itu mengandung asam asetat dan asam kaprilat.

Aromanya yang menyerupai cuka membuat hewan ini juga dijuluki vinegaroon. Julukan itu populer di berbagai negara.

Meski begitu, ketonggeng umumnya tidak berbahaya bagi manusia. Ia tidak memiliki bisa maupun sengat seperti kalajengking.

Namun, cairannya dapat menyebabkan iritasi ringan. Hindari kontak langsung dengan kulit atau mata.

Meski mirip hewan berbahaya, nyatanya ketonggeng tidak mengancam manusia. Perannya justru penting dalam ekosistem, terutama di sekitar permukiman untuk memangsa hewan-hewan kecil yang dianggap mengganggu. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....