Mengenal Burung Dodo dan Kisah Kepunahannya akibat Perbuatan Manusia

  • 06 Sep 2026 02:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Burung dodo (Raphus cucullatus) merupakan satwa endemik yang paling ikonik dari Kepulauan Mauritius dan dinyatakan telah punah.
  • Dodo hidup di Kepulauan Mascarene di Samudera Hindia bagian tenggara dan termasuk dalam kelompok Columbiformes seperti merpati dan tekukur.
  • Kepunahan dodo disebabkan oleh tekanan manusia dan kedatangan hewan-hewan pendatang yang mengubah ekosistem asli pulau tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Burung Dodo menjadi salah satu satwa punah paling ikonik dari wilayah Kepulauan Mauritius. Satwa endemik ini dinyatakan hilang setelah menghadapi tekanan manusia dan hewan pendatang.

Melansir dari Mongabay, dodo atau Raphus cucullatus hidup di Kepulauan Mascarene, Samudera Hindia bagian tenggara. Burung ini masih menjadi bagian dari kelompok Columbiformes seperti merpati dan tekukur.

Secara fisik, tubuh dodo tergolong besar dan tidak mampu terbang. Bobotnya diperkirakan berada di kisaran 9,5 hingga 14,3 kilogram.

Melansir National Geographic, Dodo banyak ditemukan hidup di hutan kering dataran rendah Mauritius. Lingkungan pulau yang minim predator membuatnya berkembang sebagai burung darat, sehingga tidak membutuhkan kemampuan terbang untuk bertahan hidup.

Keberadaan dodo pertama kali diidentifikasi oleh marinir Belanda pada 1598 ketika manusia mulai mengenal burung tersebut. Catatan tersebut menjadi salah satu penanda dalam sejarah singkat keberadaan dodo yang kemudian berakhir menyedihkan.

Penelitian menunjukkan tulang dodo mengalami pertumbuhan yang memiliki kemiripan dengan sejumlah burung modern, meskipun spesiesnya telah punah. Beberapa tulang bahkan menunjukkan individu muda, dewasa, serta betina yang sedang berada dalam masa reproduksi.

Cuaca Mauritius juga ikut memengaruhi siklus hidup dodo. Musim panas dengan badai dan hujan lebat dapat mengurangi ketersediaan makanan.

Kekurangan makanan selama periode tersebut bahkan meninggalkan tanda pada pertumbuhan tulang yang diteliti para ilmuwan. Temuan ini memperlihatkan bahwa perubahan lingkungan pernah memberikan tekanan terhadap kehidupan dodo sebelum akhirnya spesies tersebut menghilang.

Tekanan besar datang setelah manusia mulai menetap di Mauritius. Dodo menjadi sering diburu, sementara habitat dan telur-telir dodo terganggu oleh hewan pendatang.

Monyet, rusa, babi, dan tikus ikut memperburuk ancaman terhadap dodo. Karena jinak dan tak bisa terbang, dodo makin sulit bertahan.

Dodo dinyatakan punah sekitar akhir abad ke-17, dengan rentang catatan antara 1662 hingga 1693. Artinya, hanya sekitar satu abad setelah pertama kali terdokumentasikan, keberadaan dodo sudah tidak lagi ditemukan di alam.

Kepunahan dodo menjadi contoh bagaimana spesies pulau dapat sangat rentan ketika menghadapi perubahan lingkungan dan masuknya ancaman baru. Kisahnya sering dipakai sebagai pengingat pentingnya menjaga dan melestarikan habitat satwa liar sebelum terlambat. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....