'Craving' Bukan Sekadar Lapar, Ini Arti Sebenarnya

  • 31 Agt 2026 22:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Craving adalah keinginan kuat dan spesifik terhadap makanan tertentu, berbeda dari rasa lapar biasa yang bersifat umum.
  • Craving dapat terjadi bahkan ketika seseorang baru saja makan dan belum merasa lapar, menunjukkan perbedaan mekanisme psikologis.
  • Istilah craving semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan hasrat makan yang intens terhadap produk makanan spesifik.

RRI.CO.ID, Jakarta – Istilah craving semakin sering digunakan ketika seseorang sangat ingin menyantap makanan tertentu. Namun, craving sebenarnya tidak sama dengan rasa lapar biasa.

Dalam konteks makanan, craving berarti keinginan yang kuat dan spesifik terhadap makanan tertentu. Keinginan tersebut bahkan dapat muncul ketika seseorang baru saja makan dan belum merasa lapar.

Hal inilah yang membedakan craving dengan rasa lapar. Saat lapar, seseorang biasanya dapat merasa puas setelah mengonsumsi berbagai jenis makanan.

Sementara itu, craving biasanya tertuju pada makanan atau rasa tertentu. Misalnya, seseorang bisa sangat ingin makan cokelat, mi, keripik, atau makanan manis meski sebenarnya tidak membutuhkan makanan saat itu.

Keinginan tersebut dapat muncul karena berbagai hal. Melihat foto makanan, mencium aromanya, mengingat pengalaman makan, hingga kebiasaan tertentu dapat memicu craving.

Melansir The Nutrition Source, kondisi emosional juga dapat berhubungan dengan munculnya keinginan tersebut. Stres berkepanjangan, misalnya, dapat membuat seseorang lebih sering menginginkan makanan yang tinggi gula atau lemak.

Jenis makanan yang paling sering menjadi objek craving juga bukan sesuatu yang acak. Makanan dengan rasa manis, asin, atau tinggi lemak termasuk yang cukup sering memicu keinginan makan.

Otak ikut berperan dalam proses tersebut. Makanan tertentu dapat mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan rasa senang dan sistem penghargaan, sehingga keinginan untuk mendapatkannya kembali dapat muncul.

Kebiasaan juga dapat membuat craving semakin mudah muncul. Seseorang yang terbiasa makan camilan ketika menonton film, misalnya, dapat mulai menghubungkan aktivitas tersebut dengan makanan.

Karena itu, craving tidak selalu berarti tubuh sedang kekurangan zat gizi tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa keinginan terhadap makanan juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, emosi, dan paparan terhadap makanan.

Istilah craving juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami kecanduan makanan. Kecanduan makanan merupakan konsep yang lebih kompleks dan masih menjadi bahan perdebatan dalam penelitian.

Pada akhirnya, mengatakan “aku sedang craving” sebenarnya memiliki arti yang lebih spesifik daripada sekadar “aku lapar”. Istilah tersebut menggambarkan keinginan kuat terhadap makanan tertentu yang bisa muncul karena berbagai faktor.

Jadi, ketika seseorang bilang sedang craving cokelat setelah makan malam, belum tentu perutnya sedang meminta makanan. Bisa saja otak, kebiasaan, suasana hati, atau lingkungan sedang memunculkan keinginan tersebut. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....