Perang Gerilya, Strategi Sudirman Pertahankan Kemerdekaan Indonesia

  • 08 Agt 2026 18:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perang gerilya merupakan strategi penting yang digunakan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari upaya penguasaan kembali oleh Belanda.
  • Perlawanan dilakukan dengan memanfaatkan kondisi geografis wilayah Indonesia sebagai keuntungan taktis melawan kekuatan Belanda.
  • Pasukan dan rakyat digerakkan secara bersama-sama dalam strategi perang gerilya untuk menghadapi kekuatan penjajah yang terorganisir.

RRI.CO.ID, Jakarta – Perang gerilya menjadi salah satu strategi penting Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda menguasai kembali Indonesia. Strategi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kondisi geografis serta dukungan rakyat untuk menghadapi Belanda yang unggul dalam persenjataan.

Jenderal Sudirman menjadi tokoh penting dalam penerapan strategi perang gerilya. Hutan, bukit, dan pegunungan dimanfaatkan sebagai basis perlawanan untuk menghadapi kekuatan Belanda.

Perang gerilya dilakukan melalui serangan mendadak, perpindahan pasukan, serta penyamaran untuk menghindari kekuatan utama lawan. Strategi tersebut tidak bertujuan mempertahankan garis depan secara permanen.

Pasukan Indonesia berupaya melemahkan kekuatan Belanda secara bertahap melalui serangan di berbagai wilayah. Latar belakang perang gerilya berkaitan dengan upaya Belanda menguasai kembali Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Konflik semakin memanas setelah Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Serangan Belanda diawali dengan penyerangan terhadap Lapangan Udara Maguwo, dekat Yogyakarta.

Saat itu, Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia. Menghadapi agresi tersebut, Jenderal Sudirman mengeluarkan perintah kepada pasukan untuk meninggalkan pertahanan kota.

Pasukan kemudian bergerak menuju wilayah pedalaman dan membangun kantong-kantong gerilya. Melalui Perintah Siasat Nomor 1/48, pertahanan linier tidak digunakan untuk menghadapi serangan Belanda.

Pasukan diarahkan membentuk kantong gerilya dengan pusat pertahanan di sejumlah kawasan pegunungan. Strategi tersebut melibatkan pasukan mobil untuk melakukan pertempuran serta pasukan teritorial yang membina wilayah.

Satuan Wingate juga dikerahkan untuk menyusup kembali ke daerah yang sebelumnya ditinggalkan. Di pihak Belanda, Jenderal Simon Hendrik Spoor memimpin Operasi Kraai untuk merebut Yogyakarta.

Belanda mengandalkan serangan cepat. Sementara TNI menerapkan strategi gerilya untuk mempertahankan perlawanan.

Pergerakan pasukan yang terus berpindah membuat Belanda kesulitan menghancurkan kekuatan TNI. Dukungan rakyat juga membantu pasukan Indonesia mempertahankan perlawanan di berbagai daerah.

Perlawanan tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap Belanda untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi. Perjuangan bersenjata dan diplomasi kemudian berjalan beriringan dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.

Perang gerilya menjadi bagian penting dalam mempertahankan keberadaan Republik Indonesia hingga proses menuju pengakuan kedaulatan. Pengakuan tersebut kemudian dicapai melalui Konferensi Meja Bundar pada 1949.

Perjuangan gerilya menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak hanya bergantung pada persenjataan. Mobilitas pasukan, penguasaan medan, strategi, serta dukungan rakyat menjadi faktor penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....