Kurang Kesadaran, Media Sosial Picu Risiko Baru Digital

  • 30 Apr 2026 23:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Fenomena penggunaan media sosial yang semakin masif tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga memunculkan risiko baru
  • Terutama terkait perilaku pengguna dalam menampilkan diri di ruang digital
  • Dorongan untuk tampil berbeda kerap membuat sebagian orang mengabaikan batasan privasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena penggunaan media sosial yang semakin masif tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga memunculkan risiko baru. Terutama terkait perilaku pengguna dalam menampilkan diri di ruang digital.

Dorongan untuk tampil berbeda kerap membuat sebagian orang mengabaikan batasan privasi. Pakar Telematika Abimanyu Wachjoewidajat menilai, tren ini tidak bisa dilepaskan dari karakter media sosial yang mendorong eksistensi dan pengakuan publik.

Dalam kondisi tertentu, hal tersebut bahkan membuat pengguna terjebak dalam perilaku berlebihan demi mendapatkan perhatian. “Ya nggak apa-apa, ikutin saja buat seru-seruan, tapi masalahnya, banyak yang nggak tahu ‘rem’ ibarat naik mobil, tahu gas tapi nggak tahu rem di mana, ya bahaya,” kata Abimanyu, Kamis, 30 April 2026.

Ia menjelaskan, generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital dengan beragam fitur yang memudahkan ekspresi diri. Namun, tanpa kontrol yang memadai, ekspresi tersebut berpotensi mengarah pada eksploitasi diri.

“Kadang mereka sampai ‘downgrade diri’ lewat konten yang vulgar. Cuma demi followers atau endorse,” ujarnya.

Lebih jauh, Abimanyu menekankan bahwa persoalan utama bukan lagi pada kurangnya edukasi. Melainkan rendahnya kesadaran dalam menyikapi informasi yang telah diberikan.

Menurut dia, banyak individu telah menerima edukasi. Tetapi tidak menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari.

“Edukasi sudah banyak, tapi awareness itu beda cerita. Banyak yang sudah diedukasi tapi nggak peduli,” ucapnya.

Ia menambahkan, ruang privasi sebenarnya masih tersedia luas bagi setiap individu. Namun, kecenderungan untuk membuka diri secara berlebihan demi menarik perhatian justru membuat batas tersebut semakin kabur.

“Intinya, ruang privasi itu masih banyak, tapi banyak orang yang justru meninggalkan ruang privasinya demi membuka diri secara berlebihan. Cuma buat cari perhatian,” katanya.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ekspresi diri dan kontrol diri di ruang digital. Tanpa kesadaran yang kuat, pengguna berisiko menghadapi dampak negatif mulai dari penyalahgunaan datai hingga potensi menjadi korban kejahatan digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....