Hari Kartini, Mengenal Sejarah dan Perjalanannya

  • 21 Apr 2023 07:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Tepat di hari ini, Jumat (21/4/2023) peringatan Hari Kartini dilakukan. Kartini adalah salah satu pahlawan nasional yang berjasa dalam memajukan kehidupan wanita di Indonesia.

Penetapan Hari Kartini di tanggal 21 April berawal saat Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia. Yaitu keputusan Presiden No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Keputusan tersebut juga sekaligus menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Selain itu, pemilihan tanggal 21 April juga karena tanggal tersebut adalah hari kelahiran Kartini, yang jatuh pada 21 April 1879.

Mengutip dari situs Kemdikbud, Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini) lahir di Kota Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Ia adalah putri dari salah seorang bangsawan bernama Raden Mas (R.M.) Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah.

Pada tahun 1885, Kartini bersekolah di Europesche Lagere School (ELS) atau setara dengan Sekolah Dasar (SD). Kartini adalah anak pribumi Indonesia yang saat itu diizinkan mengikuti pendidikan di ELS.

Sebab, hanya anak dengan orang tua dengan jabatan tertinggi pemerintahan yang bisa ke sana. Bahasa pengantar di ELS sendiri adalah bahasa Belanda, sehingga Kartini bisa meningkatkan kemampuan bahasanya.

Namun, Kartini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya karena ditentang oleh sang Ayah. Ia dipaksa untuk menjadi putri bangsawan dengan mengikuti adat istiadat yang berlaku.

Kemudian, ia banyak menghabiskan waktu di rumahnya. Kartini yang selalu di rumah, akhirnya mengumpulkan buku-buku pelajaran dan ilmu pengetahuan untuk dibacanya di taman rumah.

Kartini jadi gemar membaca dan sering bertanya kepada Ayahnya. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda) yang waktu itu masih menjajah Indonesia.

Lalu, muncul keinginan Kartini untuk memajukan kehidupan wanita Indonesia. Baginya, wanita tidak hanya di dapur, tetapi juga harus mempunyai ilmu.

Ia mulai mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Di tengah kesibukannya, ia tidak berhenti membaca dan menulis surat kepada teman-temannya yang berada di negeri Belanda.

Setelah itu, Kartini sempat menulis surat kepada Mr.J.H Abendanon dan memohon agar diberikan beasiswa untuk bersekolah di Belanda. Namun, beasiswa tersebut tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat.

Setelah menikah, Kartini harus ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mendukung keinginan Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang.

Atau terbilang di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Kartini melahirkan seorang anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, pada tanggal 13 September 1904.

Namun, tidak lama setelah melahirkan, Kartini meninggal di usia 25 tahun pada 17 September 1904. Dan ia akhirnya dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Semasa hidupnya, Kartini memiliki cita-cita cita-cita ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar. Maka dari itu, ia banyak memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita pada masa hidupnya.


Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita