Mengenal Wayang Kulit Bekasi, Warisan Budaya Sejak 1918

  • 27 Jan 2026 12:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Bandung : Wayang Kulit Bekasi merupakan salah kesenian khas Betawi yang telah tumbuh dan mengakar kuat sejak tahun 1918. Kehadirannya bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah identitas kultural yang merekam jejak panjang perjalanan seni masyarakat Bekasi.

Sejarah panjang ini bermula dari sosok Baletet, seorang pelaku seni yang membawa pengaruh baru setelah kepulangannya dari Cirebon. Kala itu, Baletet membawa lima tokoh wayang kulit yang sangat ikonik, yakni Pandawa Lima, sebagai bekal untuk memperkenalkan seni pertunjukan ini ke wilayahnya.

Dari lima tokoh inilah, benih-benih kecintaan masyarakat terhadap wayang kulit mulai tumbuh dan menyebar, hingga akhirnya dikenal luas oleh penduduk Bekasi dan sekitarnya.

Sebagai wilayah yang secara geografis merupakan titik temu berbagai etnis, Wayang Kulit Bekasi hadir dengan keunikan sebagai perpaduan harmonis antara pengaruh Jawa, Sunda, dan Betawi.

Baca juga : Asap Rokok Dinilai Lebih Berbahaya dari Asap Knalpot

Akulturasi ini menciptakan sebuah produk budaya yang inklusif dan memiliki karakteristik yang sangat spesifik. Perpaduan tersebut mencerminkan realitas sosial masyarakat Bekasi yang plural namun tetap harmonis dalam merawat tradisi leluhur.

Keunikan yang paling menonjol dapat dilihat dari gaya permainannya yang secara signifikan dipengaruhi oleh unsur wayang golek Sunda. Meskipun mediumnya adalah kulit, namun ruh pertunjukannya sangat kental dengan nuansa priangan.

Pengaruh Sunda tersebut tidak hanya berhenti pada visualisasi gerak, tetapi juga meresap ke dalam intonasi dalang, alur cerita, hingga struktur melodi musik pengiringnya. Ritme yang dimainkan cenderung lebih energik dan komunikatif, sesuai dengan karakter masyarakat setempat yang terbuka.

Meskipun demikian, identitas Bekasi tetap dijaga dengan kuat melalui penggunaan bahasa Bekasi atau yang sering disebut dengan "Bekasi Pinggiran" dalam dialog-dialognya, sehingga pesan cerita tetap terasa akrab di telinga masyarakat lokal.

Di era modernisasi ini, pelestarian Wayang Kulit Bekasi menjadi agenda yang sangat krusial guna menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Wayang kulit bukan hanya sekadar tontonan, melainkan juga berfungsi sebagai media pembelajaran nilai-nilai moral dan sejarah yang sangat efektif.

Di dalam setiap lakon yang dimainkan, terselip pesan-pesan bijak mengenai kebajikan, keadilan, dan kearifan lokal yang masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini.

Oleh karena itu, diperlukan upaya kolektif untuk merangkul generasi muda agar kembali mencintai dan merasa memiliki budaya tradisional ini. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengemas Wayang Kulit Bekasi agar tetap menarik bagi anak muda tanpa menghilangkan esensi aslinya. 

Dengan menjaga kelestariannya, kita tidak hanya menyelamatkan sebuah kesenian saja. Lebih dari itu juga merawat memori kolektif dan jati diri masyarakat Bekasi untuk masa depan.

 

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....