[FEATURE] Kulit Lantung, Bahan Souvenir Khas Bengkulu
- 29 Jul 2024 18:50 WIB
- Bengkulu
KBRN, BENGKULU: Hampir setiap wilayah di Nusantara ini memiliki kekayaan alam, sosial, dan budaya dengan ciri khasnya masing-masing. Ciri khas tersebut biasanya dikemas menjadi karya atau produk untuk bisa menjadi penanda atau kenang-kenangan berupa oleh-oleh atau souvenir.
Di Provinsi Bengkulu, khususnya di Kota Bengkulu, salah satu produk souvenir yang sudah populer dan dikenal dengan luas hingga ke manca negara adalah beragam produk fesyen berbahan alami dari Kulit Lantung.
Kulit Lantung berasal dari kulit pohon Terap (Arthocarpus elasticus), pohon karet hutan, dan pohon ibuh yang merupakan salah satu pohon endemik yang tumbuh liar di hutan dalam wilayah Provinsi Bengkulu, seperti Bengkulu Selatan, Kaur, dan Mukomuko.
Pembuatan kulit lantung dimulai dari memotong pohon terap, pohon karet hutan, dan ibuh untuk diambil kulitnya sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Selanjutnya kulit kayu tersebut dipukul-pukul dengan alat pemukul kayu yang dibuat sedemikian rupa.
Pada saat dipukul-pukul kulit kayu yang telah terpisah dari kayu lalu dilipat hingga menjadi lembaran tipis. Lembaran tipis inilah yang dinamakan lantung.
Semakin tua usia pohon kayu yang diambil lantungnya maka akan semakin bagus kualitas lantung. Kulit lantung yang berkualitas baik biasanya berwarna cokelat.
Kemudian kulit lantung tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk kerajinan tangan yang unik seperti bingkai foto, celengan, gantungan kunci, tas, hiasan interior, topi, dompet, dan lain- lain. Hasil kerajinan tangan dari kulit lantung ini memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat Bengkulu sebagai pernak-pernik cinderamata khas Kota Bengkulu.
Salah satu pengrajin souvenir berbahan kulit lantung di Kota Bengkulu, Emi Kusmiati, warga Jalan Korpri Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu, kepada RRI mengaku mengawali usahanya karena terinspirasi oleh banyak dan mudahnya mendapatkan kulit lantung di Bengkulu.
Dari usaha kerajinan yang dia rintis sejak 2005 atau hampir 20 tahun silam, owner Fajar Wonk Craft ini mengaku telah memproduksi banyak souvenir dari kulit lantung. Selain telah menembus pasar regional, produk souvenir berbahan kulit lantung yang dia produksi juga telah menembus pasar luar negeri seperti Iran, Philipina, dan Belanda.
Ia bercerita, usaha kerajinan souvenir kulit lantung ini bermula usai dirinya mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja di tahun 2005. Karena melihat bahan baku kulit lantung yang mudah didapatkan, ia pun memutuskan menekuni usaha souvenir dari kulit lantung.
Beragam oleh-oleh hasil kerajinan tangan kulit lantung yang sudah dia hasilnya di antaranya berupa tas, peci, dan berbagai macam bentuk oleh-oleh lainnya. Selain beraneka ragam model produk, ia juga membuat beragam ukurannya.
"Kalau proses membuat satu karya itu tergantung dengan ukuran dan tingkat kerumitan. Misalnya tas, itu rata-rata bisa selesai dalam dua hari. Begitu juga dengan harganya, tergantung ukuran. Yang paling mahal sekitar Rp 1,8 juta," jelasnya.
Waktu 19 tahun memang bukan masa yang sebentar baginya untuk mengembangkan usaha. Selain produk kerajinan yang beragam, dia juga menyempatkan diri mengikuti even-even atau pameran. Baik di dalam daerah maupun ke tingkat nasional.
"Kalau dijual secara ekspor belum. Jadi mereka pesan dengan saya kemudian saya hanya kirim ke Jakarta saja. Sedangkan untuk dokumen barang tersebut agar dapat dikirim ke luar negeri itu mereka semua yang mengurus. Setelah barang tersebut sampai ke Jakarta saya posisinya sudah terima uang," kata Emi.
Saat ini, usaha kerajinan tangan tersebut telah berkembang pesat dan telah menjadi salah satu lapak dari sekian usaha souvenir di pusat oleh-oleh khas Bengkulu. Selain di rumahnya, Emi juga membuka etalase di sentra oleh-oleh Kota Bengkulu di Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Agung.