Srikandi Bengkulu Kuasai Senayan: Bukti Perempuan Bukan Cadangan!
- 29 Mei 2025 19:16 WIB
- Bengkulu
Sejarah baru tercipta dari tanah Raflesia, atau yang kita kenal sebagai Bumi Merah Putih. Untuk pertama kalinya dalam sejarah demokrasi Indonesia, seluruh wakil Provinsi Bengkulu di DPR RI periode 2024–2029 adalah perempuan. Ini bukan sekadar berita biasa, tetapi sebuah momentum revolusioner dalam perjalanan representasi gender nasional. Bengkulu, provinsi kecil yang dulu sering dipandang sebelah mata, kini tampil sebagai simbol kemajuan dan keberanian dalam memperjuangkan kesetaraan.
Para srikandi yang mengukir sejarah ini adalah Derta Rohidin (Partai Golkar), Dewi Coryati (PAN), Eko Kurnia Ningsih (PDIP), dan Erna Sari Dewi (NasDem). Mereka bukan hasil tempaan instan. Mereka adalah aktivis, akademisi, tokoh masyarakat, dan politisi yang telah menempuh jalan panjang dan penuh perjuangan. Mereka tidak sekadar hadir karena kuota perempuan, melainkan karena kualitas dan kepercayaan rakyat. Dalam iklim politik yang keras dan kompetitif, mereka tampil sebagai pemenang sejati.
Representasi yang Menginspirasi
Fenomena ini menjadi tamparan lembut bagi anggapan lama bahwa politik adalah "dunia laki-laki". Bengkulu membuktikan bahwa perempuan bukan pelengkap dalam politik, melainkan penggerak utama. Ini sejalan dengan semangat emansipasi yang pernah diperjuangkan oleh RA Kartini dan para pejuang perempuan lainnya. Kini, mimpi itu bukan hanya hidup, tapi juga bekerja di Senayan.
Bayangkan, dari sekian banyak provinsi di Indonesia, hanya Bengkulu yang berhasil mengirimkan 100% wakil perempuan ke DPR RI. Ini adalah preseden baik, bukan hanya untuk Bengkulu, tapi juga untuk seluruh bangsa. Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap elite politik, munculnya figur-figur perempuan ini diharapkan mampu membawa sentuhan yang lebih jujur, empatik, dan berpihak pada rakyat kecil.
Tanggung Jawab Besar di Tangan Srikandi
Namun, euforia ini harus diiringi dengan kesadaran bahwa ekspektasi masyarakat sangat tinggi. Bengkulu masih menghadapi berbagai tantangan: ketimpangan pembangunan, infrastruktur yang belum merata, kualitas pendidikan dan layanan kesehatan yang perlu ditingkatkan, serta potensi daerah yang belum tergarap maksimal.
Kini, dengan kekuatan perempuan, kita berharap akan ada pendekatan yang lebih inklusif, menyentuh akar rumput, dan fokus pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Sebab sejatinya, politik bukan tentang siapa yang paling kuat berteriak, tapi siapa yang paling tulus mendengar.
PMII dan Perjuangan Keadilan Sosial
Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), saya melihat ini sebagai momen penting untuk menguatkan nilai-nilai humanisme, keadilan sosial, dan transformasi kepemimpinan. Kita mendukung penuh para srikandi Bengkulu untuk menjadi wakil rakyat yang bersih, berani, dan berpihak. Namun, sebagai anak muda dan bagian dari civil society, kita juga akan terus menjadi penjaga moral politik yang kritis dan konstruktif.
Penutup: Perempuan Adalah Kekuatan, Bukan Cadangan
Bengkulu hari ini menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan bukan cadangan dalam politik. Mereka adalah kekuatan utama. Mereka bukan sekadar mengisi ruang kosong, tapi membawa harapan baru. Derta Rohidin, Dewi Coryati, Eko Kurnia Ningsih, dan Erna Sari Dewi adalah wajah baru politik Bengkulu yang berani, cerdas, dan penuh dedikasi. Srikandi Bengkulu telah kuasai Senayan. Sekarang saatnya kita kawal, kita dukung, dan kita jadikan ini sebagai inspirasi nasional.Namun tidak boleh juga Anti kritik jika dalam menjalankan tugas tidak sejalan dengan tupoksinya harus dikritik dan itu hal yang tidak masalah dalam negara demokrasi yang penting kritik yang membangun.
Dari Bengkulu, untuk Indonesia. Dari perempuan, untuk masa depan.
***
Lubis, S.H., M.H. – Wakil Bendahara Umum PB PMII, Putra Bengkulu