Potensi Limbah Sabut Kelapa di Pondok Kelapa Diprediksi Capai 100 Ton Lebih
- 15 Sep 2026 15:28 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu Tengah - Potensi limbah sabut kelapa di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, diprediksi mencapai lebih dari 100 ton. Jumlah tersebut dinilai menjadi potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, terutama cocofiber dan cocopeat.
Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu (Unib) yang juga anggota tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib, Dr. Yar Johan, mengatakan potensi limbah tersebut cukup besar seiring banyaknya tanaman kelapa yang tumbuh di wilayah Pondok Kelapa. Menurutnya, sabut kelapa yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat dikonversi menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai tambah.
"Kalau melihat potensi kelapa yang ada di Pondok Kelapa, limbah sabutnya cukup besar dan kami memprediksi bisa mencapai lebih dari 100 ton," ujar Yar Johan. Ia mengatakan angka tersebut menunjukkan bahwa limbah sabut kelapa sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Menurut Yar Johan, tim LPPM Unib memperkenalkan teknologi sederhana untuk mengolah sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocopeat. Pengolahan tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa satu jenis limbah dapat menghasilkan lebih dari satu produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
Cocofiber merupakan serat yang dihasilkan dari bagian sabut kelapa dan memiliki karakteristik kuat serta lentur. Serat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, salah satunya sebagai bahan geotextile untuk membantu penguatan dan perlindungan tanah.
Sementara itu, cocopeat merupakan bagian halus dari sabut kelapa yang memiliki kemampuan menyerap dan menahan air. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media tanam maupun diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk, termasuk briket sebagai salah satu alternatif bahan bakar.
"Sabut kelapa ini jangan dilihat hanya sebagai limbah. Ada serat yang bisa menjadi cocofiber dan ada bagian halusnya yang bisa diolah menjadi cocopeat. Yang paling penting bukan hanya bagaimana mengolahnya, tetapi bagaimana limbah ini bisa dikumpulkan secara rutin dan kemudian diproduksi secara berkelanjutan," ujarnya.

Yar Johan menilai, potensi lebih dari 100 ton limbah sabut kelapa tersebut membutuhkan sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Masyarakat tidak cukup hanya mendapatkan pelatihan, tetapi perlu didorong untuk membangun rantai produksi mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hingga pemasaran.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat terus dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Dukungan berupa teknologi, pendampingan produksi, peningkatan kualitas, hingga akses pasar dinilai penting agar pemanfaatan limbah sabut kelapa tidak berhenti pada tahap pelatihan.
Menurutnya, pemanfaatan sabut kelapa juga dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan karena mengurangi limbah yang selama ini dibuang atau dibakar. Pada saat yang sama, pengolahan tersebut berpeluang menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat di Kecamatan Pondok Kelapa.
Program pengabdian berbasis riset yang dilakukan LPPM Unib diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan potensi tersebut secara lebih luas. Dengan pengelolaan yang konsisten, limbah sabut kelapa di Pondok Kelapa berpeluang menjadi bahan baku industri rumah tangga sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....