Kesiapsiagaan Bencana Perlu Diperkuat dari Masyarakat
- 01 Sep 2026 18:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas ketika kondisi darurat terjadi, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat dalam memberikan informasi yang akurat. Pengetahuan mengenai langkah penyelamatan, pelaporan kejadian, hingga kesiapan membantu sesama menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko ketika bencana terjadi.
Bengkulu memiliki beragam potensi bencana yang membuat kesiapsiagaan perlu terus dibangun di tengah masyarakat. Generasi muda juga memiliki peran strategis, mulai dari memahami risiko di lingkungan sekitar, menyebarkan informasi yang benar, hingga terlibat dalam kegiatan kerelawanan sesuai kemampuan dan prosedur keselamatan.
Dalam dialog tanggap bencana di Pro 1 RRI Bengkulu pada Selasa, 1 September 2026, PKPP Ahli Muda Basarnas Bengkulu Jecki Chan, S.H., M.H. mengatakan, ketika menerima laporan dari masyarakat, tim Basarnas berupaya tiba di lokasi maksimal 23 menit. Namun, kecepatan respons tersebut juga membutuhkan laporan yang lengkap, antara lain lokasi kejadian, foto, serta informasi pendukung lainnya agar petugas dapat menentukan langkah penanganan.
Jecki menjelaskan, penanganan melalui operasi SAR dilakukan melalui lima tahapan, yakni memastikan atau menyadari adanya musibah, melakukan pergerakan, menyusun perencanaan, melaksanakan operasi, dan menutup operasi SAR. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya cepat menyampaikan laporan, tetapi juga memberikan informasi yang jelas sehingga proses pencarian dan pertolongan dapat dilakukan secara tepat.
Sementara itu, Kabid Relawan PMI Kota Bengkulu Faizal Andriansyah, S.Hut., M.Ling. mengatakan, peran PMI dalam kondisi tertentu juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, termasuk membantu pemenuhan air bersih saat musim kemarau melalui kerja sama dengan PDAM. Penyaluran air bersih dilakukan setelah survei untuk memastikan bantuan diberikan kepada kawasan permukiman yang memang terdampak kekurangan air, bukan hanya berdasarkan kebutuhan satu atau dua rumah.
Faizal juga menilai edukasi kebencanaan perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan media sosial, terlebih pelaksanaan simulasi secara langsung membutuhkan biaya yang tidak sedikit di tengah kebijakan efisiensi. Konten mengenai simulasi dan langkah menghadapi bencana dapat menjadi alternatif edukasi karena media sosial kini digunakan berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, generasi muda, hingga orang dewasa.
Penguatan kesiapsiagaan pada akhirnya membutuhkan kolaborasi antara petugas, pemerintah, relawan, dan masyarakat, baik sebelum maupun ketika bencana terjadi. Edukasi yang mudah dijangkau, kemampuan memberikan laporan secara tepat, serta pemahaman mengenai tindakan saat kondisi darurat diharapkan dapat membangun masyarakat Bengkulu yang lebih siap menghadapi berbagai risiko bencana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....