Peserta KPMD 2026 Dibekali Keterampilan Tanggap Darurat

  • 06 Sep 2026 17:35 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu — Kemah Pramuka Madrasah Daerah (KPMD) Tingkat Provinsi Bengkulu 2026 tidak hanya diisi kegiatan kepramukaan dan permainan. Para peserta juga dibekali keterampilan menghadapi situasi darurat melalui Simulasi Tanggap Bencana, Simulasi Kebakaran, dan Emergency Drill di Arena Bumi Perkemahan serta lingkungan UINFAS Bengkulu, Sabtu 5 September 2026.

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan peserta dari setiap pangkalan. Sebelum praktik, peserta mendapatkan pembekalan teori dan pengenalan berbagai peralatan yang digunakan dalam penanganan kondisi darurat.

Dalam Simulasi Kebakaran, peserta mendapat materi dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bengkulu. Materi meliputi pengenalan dan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) serta langkah yang harus dilakukan saat menghadapi kebakaran.

Sementara itu, materi kesiapsiagaan bencana disampaikan Basarnas Bengkulu. Peserta dikenalkan dengan sejumlah peralatan penyelamatan, seperti tandu dan pelampung, sekaligus dilatih memahami langkah dasar menghadapi kondisi kebencanaan.

Adapun Emergency Drill menghadirkan pemateri dari Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Provinsi Bengkulu. Peserta diperkenalkan dengan penanganan kondisi kegawatdaruratan, termasuk penggunaan bidai dan peralatan pertolongan lainnya dengan bantuan boneka simulasi.

Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Dr. H. Hamdani, M.Pd., mengatakan pembekalan tersebut penting untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan kepramukaan. Menurutnya, peserta juga perlu memiliki kesiapan menghadapi situasi yang membutuhkan ketenangan dan tindakan cepat.

“Pramuka itu bukan hanya tentang kegiatan di lapangan, tetapi juga bagaimana anak-anak memiliki keterampilan yang bisa mereka gunakan ketika menghadapi situasi nyata. Karena itu, mereka perlu mengenal apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran, bencana, maupun kondisi yang membutuhkan pertolongan pertama,” ujar Hamdani.

Menurut Hamdani, pengalaman belajar secara langsung membuat materi lebih mudah dipahami peserta dibandingkan jika hanya disampaikan melalui teori. Praktik simulasi juga membantu peserta memahami penggunaan peralatan sekaligus membangun kemampuan bekerja sama saat menghadapi keadaan darurat.

“Anak-anak tidak cukup hanya tahu secara teori. Mereka perlu melihat alatnya, tahu cara menggunakannya dan mencoba langsung dalam simulasi,” katanya.

Hamdani menambahkan, simulasi tersebut juga melatih peserta untuk tetap tenang dan mengambil keputusan saat menghadapi keadaan darurat. “Dari sini mereka belajar untuk tetap tenang, bekerja sama dan mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....