Konservasi Penyu di Pekik Nyaring Terus Berjalan di tengah Ancaman Abrasi

  • 31 Agt 2026 14:55 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Upaya pelestarian penyu terus dilakukan di kawasan Cemara, Desa Pekik Nyaring, Kabupaten Bengkulu Tengah, dengan melibatkan masyarakat. Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan penyu di wilayah tersebut.

Kepala Desa Pekik Nyaring, Noval Ananta, mengatakan masyarakat yang menemukan sarang penyu di pantai diarahkan untuk menyerahkan telur tersebut kepada kelompok konservasi. Langkah ini dilakukan agar telur tidak kembali diperjualbelikan secara bebas dan dapat melalui proses penetasan hingga menjadi tukik.

“Masyarakat yang menemukan telur penyu kita arahkan untuk menyerahkannya kepada kelompok konservasi, supaya telur itu tidak diperjualbelikan lagi dan bisa ditetaskan,” ujarnya pada Jum’at 28 Agustus 2026.

Menurut Noval, satu sarang penyu yang ditemukan masyarakat dihargai sekitar Rp600 ribu. Sementara kebutuhan konservasi sebagian besar masih didukung melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR), sedangkan anggaran pemerintah desa masih terbatas.

Pengelola konservasi penyu, Zulkarnain, mengungkapkan Kesepakatan tersebut dilakukan agar telur yang ditemukan di wilayah setempat tidak lagi masuk ke pasar. Kemudian dapat diselamatkan untuk kepentingan konservasi.

“Telur yang kita dapatkan berasal dari masyarakat yang menemukan di pantai,” ungkap Zulkarnain.

Zulkarnain menyebutkan, penyu di wilayah Bengkulu tidak memiliki musim bertelur yang benar-benar tetap karena aktivitas bertelur dapat berlangsung setiap bulan. Namun, jumlah induk yang naik ke pantai biasanya mulai meningkat pada April hingga Juli, dengan satu induk dapat menghasilkan sekitar 100 hingga 200 butir telur, tergantung jenis penyu.

Dalam proses penetasan, telur penyu dikubur di media pasir dengan kedalaman sekitar 50 hingga 70 sentimeter. Telur kemudian dipantau secara berkala hingga menetas dalam waktu sekitar 60 hari, sedangkan kondisi pasir harus dijaga agar tidak terlalu kering maupun terlalu basah.

Pengelola menyebut abrasi yang terjadi sejak 2024 hingga akhir 2025 menjadi salah satu kendala dalam kegiatan konservasi. Tempat penetasan yang sebelumnya menggunakan bak pasir rusak akibat abrasi sehingga pengelola kini memanfaatkan ember sebagai wadah penetasan, di samping masih membutuhkan fasilitas seperti sumur air tawar.

Meski menghadapi keterbatasan, kegiatan konservasi tetap berjalan dan mendapat kunjungan rutin dari masyarakat, mahasiswa, pelajar hingga tamu dari luar daerah. Zulkarnain menambahkan pelestarian penyu juga menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan pantai, termasuk melalui penghijauan di area yang terdampak abrasi.

Penulis : Neda Mahasiswa Magang UINFAS Bengkulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....