Dentuman Dol Bengkulu, Bertahan di tengah Perubahan Zaman

  • 20 Agt 2026 12:45 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya musik modern, alat musik tradisional dol masih dipertahankan sebagai bagian dari kesenian Kota Bengkulu. Dentuman khasnya tetap terdengar dalam berbagai kegiatan budaya, meski keberadaannya kini dihadapkan pada perubahan minat masyarakat.

Perubahan tersebut terlihat dari permintaan dol yang tidak lagi banyak seperti sebelumnya, terutama dalam jumlah besar. Kondisi ini turut berdampak pada aktivitas produksi dan jumlah pengrajin dol yang masih bertahan di Bengkulu.

Hal ini dirasakan langsung oleh Diki, salah satu pengrajin dol yang telah menekuni pembuatan alat musik tersebut sejak tahun 2015. Menurutnya, pesanan dalam jumlah besar yang dahulu kerap datang, termasuk dari pemerintah, kini semakin jarang.

“Sekarang di Bengkulu kita pengrajin cuma tinggal tiga saja. Takutnya kalau enggak ada generasi muda yang menjaga tradisi ini, identitas Bengkulu bisa hilang,” ujar Diki pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Berkurangnya jumlah pengrajin dol menjadi perhatian bagi Diki. Keterampilan membuat dol membutuhkan kemampuan khusus dan proses pengerjaan yang tidak singkat.

Proses pembuatan dol diawali dengan pengolahan batang kelapa yang dibentuk selama sekitar dua hingga tiga hari. Setelah itu, kayu dikeringkan secara alami selama satu bulan, dilanjutkan dengan proses pendempulan, pengemalan, dan pemasangan kulit sapi sebagai bagian permukaan dol.

Dalam seminggu, Diki mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 15 unit dol. Namun, saat ini produksi tidak lagi sebanyak sebelumnya karena permintaan menurun, sehingga beberapa dol masih tersedia sebagai stok.

Ketertarikan masyarakat terhadap dol juga terlihat dari pembelian untuk dimiliki secara pribadi. Arya Dafa Widjaya mengatakan dirinya mempertimbangkan harga, ukuran, bahan, kondisi, dan kualitas dol sebelum membeli agar sesuai dengan kebutuhan.

“Saya berharap pengrajin tetap mempertahankan kualitas dan terus memproduksi dol. Semoga semakin banyak masyarakat yang mengenal dan menghargai dol sebagai produk budaya Bengkulu,” ungkap Dafa.

Keberadaan dol di tengah perubahan zaman menunjukkan bahwa pelestarian alat musik tradisional tidak hanya bergantung pada pengrajin, tetapi juga pada minat masyarakat dan generasi muda untuk mengenal, memainkan, serta mempertahankannya sebagai bagian dari identitas budaya Bengkulu.

Penulis : Neda Mahasiswa Magang UINFAS Bengkulu

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....