Spiritualitas dan Keselarasan Nilai Jadi Kunci Membangun ASN Berkinerja

  • 24 Jul 2026 07:53 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Spiritualitas di tempat kerja dan keselarasan nilai antara pegawai dengan organisasi menjadi fondasi penting dalam membangun Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berkinerja tinggi sekaligus memiliki makna dalam bekerja. Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Slamet Widodo, S.E., M.S. dalam orasi ilmiahnya yang disampaikan pada pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu, Kamis, 23 Juli 2026.

Menurut Prof. Slamet, peningkatan kinerja ASN tidak cukup dilakukan melalui peningkatan kompetensi teknis, sistem penghargaan, maupun reformasi birokrasi semata. Organisasi juga perlu memperhatikan dimensi psikologis dan spiritual agar pegawai memandang pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian yang bermakna bagi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan tingkat kebermaknaan kerja ASN masih tergolong rendah. Kondisi tersebut tercermin dari lemahnya motivasi kerja, rendahnya disiplin, produktivitas, inovasi, hingga meningkatnya ketidakhadiran pegawai tanpa keterangan.

Prof. Slamet mengungkapkan bahwa capaian sektor publik Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara lain dalam berbagai indikator. Berdasarkan hasil penelitian terhadap sampel ASN di Provinsi Bengkulu, lebih dari 73 persen pegawai berada pada kategori kinerja rendah hingga sangat rendah.

Menurutnya, rendahnya semangat dan disiplin kerja merupakan salah satu tanda bahwa pegawai mulai kehilangan makna terhadap pekerjaan yang mereka jalankan. Selama ini, kebijakan reformasi birokrasi dinilai lebih banyak berfokus pada aspek administratif dan target kinerja dibandingkan penguatan motivasi intrinsik pegawai.

Melalui penelitian menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM), Prof. Slamet mengkaji hubungan antara spiritualitas di tempat kerja, transendensi diri, kesesuaian individu dengan organisasi (person-organization fit), dan kebermaknaan kerja pada sektor publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas di tempat kerja berpengaruh positif terhadap meningkatnya keselarasan nilai antara individu dan organisasi serta memperkuat transendensi diri pegawai.

Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa transendensi diri tidak berpengaruh signifikan terhadap terbentuknya kebermaknaan kerja. Faktor yang paling menentukan justru adalah keselarasan nilai, tujuan, dan budaya organisasi dengan karakter pegawai.

Semakin tinggi tingkat keselarasan antara individu dan organisasi, semakin tinggi pula kebermaknaan pekerjaan yang dirasakan pegawai. Temuan ini menunjukkan bahwa organisasi memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk dedikasi dan motivasi ASN.

Prof. Slamet menegaskan bahwa kebermaknaan kerja tidak hanya lahir dari dalam diri seseorang, tetapi juga dibangun melalui lingkungan organisasi yang sehat. Organisasi harus mampu menghadirkan rasa memiliki, keselarasan nilai, dan budaya kerja yang mendukung setiap pegawai.

Ia menjelaskan bahwa spiritualitas di tempat kerja tidak identik dengan praktik keagamaan semata. Spiritualitas lebih dimaknai sebagai kemampuan organisasi menciptakan lingkungan yang memberikan makna, tujuan, kebersamaan, dan kesempatan berkontribusi bagi masyarakat.

Sebaliknya, pegawai akan kehilangan makna kerja apabila merasa tidak dihargai, diperlakukan tidak adil, ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai kompetensi, atau tidak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada menurunnya motivasi, produktivitas, dan kualitas pelayanan publik.

Prof. Slamet mendorong agar reformasi birokrasi bergerak menuju pengelolaan sumber daya manusia berbasis nilai atau value-based human resource management. Organisasi publik perlu membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian indikator kinerja, tetapi juga memperkuat integritas, empati, rasa memiliki, dan keselarasan nilai.

Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu membangun ruang dialog, kepercayaan, penghargaan, serta komunikasi nilai secara berkelanjutan. Pemimpin yang dapat menghubungkan tujuan organisasi dengan tujuan hidup pegawai akan melahirkan ASN yang bekerja atas dasar kesadaran dan semangat pengabdian.

Menurut Prof. Slamet, organisasi publik harus menjadi tempat setiap pegawai menemukan alasan mengapa pekerjaannya penting bagi masyarakat. Dengan demikian, peningkatan kualitas pelayanan publik tidak hanya ditopang oleh kompetensi teknis dan sistem birokrasi yang baik, tetapi juga oleh spiritualitas kerja dan pengalaman kerja yang bermakna bagi setiap ASN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....