Harga Material Naik imbas Dolar, Pengembang Perumahan Bengkulu Tertekan
- 26 Mei 2026 11:08 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Kenaikan nilai tukar dolar mulai berdampak terhadap sektor perumahan di Provinsi Bengkulu. Harga material bangunan melonjak tajam hingga 40 persen, sementara daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat sejumlah konsumen memilih menunda bahkan membatalkan pembelian rumah. Di sisi lain, para pengembang harus menghadapi lonjakan biaya pembangunan yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Provinsi Bengkulu, Asman mengatakan, kenaikan harga material saat ini sudah berada di luar batas penyesuaian normal. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengembang kesulitan menjaga stabilitas biaya pembangunan.
“Pembelian material itu bukan naik harga lagi, tapi sudah berubah harga. Kenaikannya antara 30 sampai 35 persen, bahkan ada yang sampai 40 persen,” kata Asman, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menjelaskan hampir seluruh material utama mengalami kenaikan harga signifikan. Mulai dari pasir, batu, besi, seng hingga baja ringan mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi rumah ikut meningkat hampir 30 persen. Sementara itu, harga jual rumah subsidi maupun rumah komersial hingga kini belum mengalami penyesuaian.
“Dengan kenaikan ini, biaya produksi rumah juga naik hampir 30 persen. Semua komponen terdampak,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat pengembang berada dalam posisi sulit karena margin keuntungan terus menurun. Di sisi lain, aktivitas pembangunan tetap harus berjalan agar proyek yang sudah direncanakan tidak terhenti total.
“Yang dikorbankan sekarang pihak pengembang. Margin kami jauh berkurang. Kalau kondisi seperti ini terus, kami tidak bisa memproduksi rumah secara maksimal. Bahkan lebih baik stagnan dulu sambil menghitung ulang,” tuturnya.
Selain persoalan kenaikan material, pengembang juga mengeluhkan regulasi sektor perumahan yang dinilai semakin rumit. Penyesuaian sistem administrasi hingga aturan perpajakan disebut ikut memperlambat proses akad rumah dan berdampak pada penjualan properti di Bengkulu.
"Tapi APERSI optimis pembangunan 1.500 unit rumah subsidi pada tahun ini dapat tercapai. Sehingga pemenuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat tercapai," kata Asman mengahkiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....