Mapel Desak Investigasi Menyeluruh atas Kematian Gajah dan Harimau di Mukomuko
- 18 Mei 2026 19:52 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Sekretaris Umum Dewan Eksekutif Nasional Yayasan Masyarakat Peduli Lingkungan (Mapel) Indonesia, Nanang Ardiansyah Lubis, menegaskan pihaknya terus mengawal serius kasus kematian dua ekor gajah dan satu harimau Sumatera yang ditemukan di wilayah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Menurutnya, temuan tersebut telah mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), yang turun langsung melakukan investigasi di lokasi.
Seluruh hasil temuan di lapangan, menurutnya, dilaporkan secara berjenjang hingga ke kementerian bahkan Presiden Republik Indonesia. “Satgas PKH dari pusat sudah turun langsung," ujar Nanang saat pelantikan pengurus Mapel Bengkulu, Senin 18 Mei 2026.
"Apa yang mereka temukan di lapangan akan dilaporkan ke kementerian bahkan sampai ke Presiden. Mudah-mudahan apa yang Mapel lakukan selalu menjadi data dan informasi penting bagi pemerintah,” ucapnya.
Ia menegaskan Mapel berkomitmen merespons setiap persoalan lingkungan dan satwa secara nasional, termasuk kasus-kasus yang terjadi di luar Bengkulu. Seperti kematian satwa di Kebun Binatang Medan yang juga sempat menjadi perhatian organisasi tersebut.
Namun demikian, menurut Nanang penyebab kematian gajah dan harimau di Mukomuko belum bisa disimpulkan hanya sebagai akibat peracunan. Hal ini karena kondisi fisik bangkai satwa menunjukkan indikasi kuat adanya kerusakan habitat yang menyebabkan satwa kehilangan sumber pangan atau kelaparan.
“Kalau melihat kondisi bangkai gajah dan harimau yang ditemukan, tubuhnya tidak ideal. Bisa jadi mereka mati karena kelaparan akibat habitat dan ekosistemnya rusak,” tuturnya.
Nanang menambahkan, aktivitas perambahan hutan dan dugaan keterlibatan perusahaan pemegang izin di sekitar kawasan hutan produksi juga perlu ditelusuri secara objektif. Ia menilai investigasi menyeluruh penting dilakukan untuk memastikan apakah kerusakan kawasan berkontribusi terhadap terganggunya jalur hidup satwa liar di Bentang Alam Seblat.
“Faktor kerusakan habitat harus dicocokkan dengan kondisi lapangan. Satgas dari pusat sudah bekerja penuh di lapangan bersama Forkopimda. Ini tidak bisa disamakan dengan kasus kriminal biasa karena membutuhkan penelitian mendalam,” kata dia.
Diketahui, dua bangkai gajah Sumatera terdiri dari induk betina berusia sekitar 25 tahun dan anak jantan berusia sekitar dua tahun ditemukan membusuk di kawasan Hutan Produksi Terbatas Air Teramang pada akhir April 2026. Sementara seekor harimau Sumatera ditemukan mati di aliran sungai Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, sekitar 32 kilometer dari lokasi penemuan gajah.
Kasus ini menambah daftar ancaman serius terhadap keberlangsungan satwa liar Bengkulu, khususnya di kawasan Bentang Alam Seblat yang selama ini dikenal sebagai salah satu habitat penting gajah dan harimau Sumatera. Mapel mendesak pemerintah memastikan perlindungan kawasan hutan berjalan efektif demi mencegah kematian satwa dilindungi terus berulang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....