Pentinya Deteksi Dini HIV pada Ibu Hamil
- 28 Feb 2026 13:45 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu : HIV atau human immunodeficiency virus merupakan virus yang menyerang sel-sel darah putih (CD4) dalam sistem kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan dan mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam memerangi infeksi dan penyakit.
Jika tidak ditangani dengan tepat, HIV dapat berubah menjadi gangguan kesehatan yang serius, dimana daya tahan tubuh menjadi sangat lemah sehingga tak mampu lagi melawan infeksi dan serangan penyakit dalam tubuh. Kondisi ini dikenal sebagai AIDS, atau Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yang merupakan stadium akhir dari infeksi HIV.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus HIV di Indonesia pada tahun 2023. 35% diantaranya adalah ibu rumah tangga, dan 0,3% adalah ibu hamil. Selain berdampak buruk pada ibu, HIV juga mempengaruhi janin yang dikandungnya.
Melansir dari laman resmi kemenkes penting untuk melakukan deteksi dini HIV pada ibu hamil. Karena ibu hamil yang menderita HIV memerlukan perawatan khusus untuk menangani infeksinya, serta mengurangi risiko penularan pada bayi.
Sebagai langkah pertama, pemeriksaan HIV pada ibu hamil harus dilakukan sejak awal kehamilan untuk menentukan status HIV ibu hamil, biasanya pada trimester pertama kehamilan, dan bukan merupakan bagian dari medical check up pada umumnya. Jika status HIV ibu hamil negatif tapi memiliki risiko penularan yang tinggi, maka dapat dilakukan pemeriksaan ulang pada trimester ketiga.
Namun, jika status HIV ibu hamil positif, langkah-langkah perawatan yang tepat dan pengobatan harus segera dimulai untuk meminimalisir risiko penularan pada bayi. Berbagai jenis skrining HIV yang umum dilakukan, antara lain:
1. Tes Antibodi
Tes ini untuk mendeteksi kadar antibodi dalam tubuh sebagai respon terhadap infeksi HIV. Tes ini harus dilakukan dalam waktu 3-12 minggu agar jumlah antibodi dalam darah cukup tinggi untuk terdeteksi saat pemeriksaan.
2.Tes Antigen
Tujuannya untuk mendeteksi kadar protein p24 yang merupakan bagian dari virus HIV. P24 biasanya diproduksi dalam tubuh 2-6 minggu setelah terinfeksi virus HIV.
Jika hasil tes HIV menunjukkan ibu hamil positif HIV, maka pengobatan dengan terapi obat antiretroviral (ARV) harus segera dimulai. Tujuannya adalah menurunkan kadar virus HIV dalam tubuh ibu untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi HIV, serta meminimalkan risiko penularan pada bayi. Namun, pilihan pengobatan ARV harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamil.
Dengan perawatan, pengobatan, dukungan dan konseling yang baik, dampak infeksi HIV pada ibu hamil dapat dikelola dengan baik. Selain itu juga memfasilitasi perubahan perilaku yang meminimalisir risiko penularan pada bayi dan orang-orang di sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....