Prof. Unib Ubah Lahan Kering jadi Layak Tanam

  • 12 Feb 2026 17:23 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori di ruang kelas. Di tangan para peneliti yang tekun, ilmu menjelma menjadi solusi nyata bagi kehidupan.

Prinsip inilah yang menjiwai perjalanan akademik Prof. Dr. Ir. Rustikawati, Guru Besar Bidang Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (Unib), yang selama lebih dari dua dekade menekuni riset pengembangan tanaman adaptif di lahan kering dan pesisir. Atas dedikasi panjangnya dalam penelitian dan pengabdian, Prof. Rustikawati dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Rapat Senat Paripurna Terbuka Universitas Bengkulu di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Selasa, 10 Februari 2026.

Ia dikukuhkan bersama lima profesor lainnya: Prof. Dr. Ir. Irnad, M.Sc (Sosial Ekonomi Pertanian, FP); Prof. Dr. Wisma Yunita, S.Pd, M.Pd (Pengajaran Bahasa Inggris, FKIP); Prof. Dr. Jose Rizal, S.Si, M.Si (Matematika Terapan, FMIPA); Prof. Dr. Drs. Sugeng Suharto, MM, M.Si (Kebijakan Publik, FISIP); serta Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si (Sosial Ekonomi Pertanian, FP).

Dalam tradisi akademik pengukuhan, setiap profesor menyampaikan orasi ilmiah sebagai refleksi kepakaran dan kontribusi risetnya. Prof. Rustikawati memilih tema yang sangat relevan dengan karakteristik wilayah Bengkulu yang didominasi lahan kering dan sebagian wilayah pesisir, yakni “Pengembangan Tanaman Adaptif Lahan Kering dengan Bioteknologi.” Ia menginginkan varietas tanaman yang mampu bertahan dan tetap produktif di tengah keterbatasan kondisi tanah masam, kekeringan, hingga salinitas pesisir.

Menurutnya, lahan kering merupakan sumber daya strategis yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Dari total 191,1 juta hektar daratan Indonesia, hampir separuhnya merupakan lahan kering. Namun, potensi besar tersebut dibayangi berbagai kendala, seperti tingkat kemasaman tanah yang tinggi, rendahnya kandungan bahan organik, keterbatasan air, serta salinitas di wilayah tertentu.

“Pendekatan input tinggi seperti pemupukan kimia dan irigasi intensif sering kali tidak efisien bagi petani kecil. Selain meningkatkan biaya produksi, juga berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dalam jangka panjang,” katanya.

Solusi yang ia tawarkan adalah pendekatan berbasis genetik dan bioteknologi untuk menghadirkan varietas unggul yang secara alami toleran terhadap cekaman lingkungan. Dengan cara ini, petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada input eksternal yang mahal dan berisiko terhadap keberlanjutan lahan.

Hasilnya bukan sekadar konsep di atas kertas. Bersama tim peneliti, Prof. Rustikawati berhasil melahirkan sejumlah varietas unggul yang telah terdaftar resmi, antara lain jagung UNIB CT9 (No. 418/PVHP/2016), cabai UNIB CHR17 (No. 344/PVHP/2015), cabai Maxima (No. 424/PVHP/2016), dan cabai UNIB CHR23 (No. 425/PVHP/2016) yang adaptif pada lahan kering masam. Tak berhenti di situ, risetnya juga menghasilkan varietas untuk wilayah pesisir salin, yakni jagung UNIB CT30 (No. 529/PVHP/2017) dan cabai rawit UNIB H3 yang menunjukkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas komersial yang beredar saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....