Tantangan Umat Muslim Menjalankan Ibadah Puasa di Amerika
- 19 Feb 2026 10:19 WIB
- Bengkulu
RRI. CO. ID, Amerika Serikat - Perbedaan suasana Ramadan di negeri Paman Sam dirasakan Risky Utari yang kini menetap di Carson City, Nevada, Amerika Serikat. Ia menilai nuansa bulan suci di sana tidak semeriah di Indonesia, khususnya Kota Bengkulu, karena umat Muslim merupakan minoritas di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Risky, suasana di sekitar tempat tinggalnya tidak terdengar suara azan dikarnakan masjid berada cukup jauh, sementara lingkungan sekitarnya lebih banyak terdapat rumah ibadah umat Kristiani dan dikelilingi gereja. Kondisi tersebut membuat atmosfer Ramadan terasa kurang semarak seperti di tanah air.
| Baca juga: Baznas Keluarkan Ketentuan Zakat |
Ia juga menghadapi berbagai tantangan saat menjalankan puasa, terutama ketika masih bekerja karena banyak rekan di sekitarnya tetap makan pada siang hari selama bulan Ramadan. Selain itu, ia tidak menemukan tradisi ngabuburit dan kesulitan mendapatkan makanan Indonesia yang autentik, sementara durasi puasa saat musim panas bisa mencapai 16 jam hingga sekitar pukul 20 lewat 30 menit.
“Di sini tidak ada razia seperti di Indonesia, jadi orang tetap makan di siang hari walaupun kita berpuasa. Kalau musim panas, puasanya terasa lebih berat karena lebih lama, jadi saya biasanya berbuka dengan makanan praktis seperti oatmeal,” ujarnya.
Risky mengatakan kegiatan seperti tarawih berjamaah atau tradisi menjelang Ramadan nyaris tidak pernah dilakukan di tempat tinggalnya. Hal itu karena setelah jemaah melaksanakan salat di masjid, tempat ibadah tersebut biasanya langsung ditutup kembali demi alasan keamanan.
Ia menambahkan komunitas Muslim di Amerika sesekali mengadakan kegiatan buka puasa bersama, misalnya di salah satu rumah umat muslim atau di restoran terdekat. Sehingga, berbuka di rumah kerabat muslim lainnya menjadi salah satu obat penawar rindu suasana puasa di kampung halaman, Indonesia. ( Elni )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....