Transformasi Industri Batik yang Adaptif dengan Perkembangan Zaman

  • 02 Okt 2025 11:19 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang berkontribusi besar pada perekonomian Indonesia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri batik agar semakin produktif dan inovatif. Guna mencapai sasaran tersebut, Kemenperin aktif berkolaborasi dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI), untuk mempercepat transformasi industri batik agar semakin adaptif terhadap perkembangan zaman melalui inovasi dan penerapan teknologi.

Dikutip dari Siaran Pers Kemenperin pada (26/6/2025) lalu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kinerja ekspor batik pada triwulan I tahun 2025 mencatatkan nilai sebesar USD7,63 juta atau naik 76,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar USD4,33 juta. Berdasarkan Direktori Sentra BPS tahun 2020, pelaku industri batik di Indonesia berjumlah sekitar 5.946 industri dan 200 sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di 11 provinsi. 

Dari data tersebut semakin menegaskan bahwa batik berperan besar dalam ekonomi Indonesia dan menjadi sumber mata pencaharian khalayak banyak. Untuk itu, Menperin mengimbau agar perajin dan pengusaha (IKM) batik agar senantiasa jeli melihat peluang di pasar domestik dan luar negeri, terutama untuk konsumen generasi muda,

Menperin mengatakan inovasi dan teknologi industri batik yang kini sedang berkembang antara lain penggunaan kompor listrik batik, pengolah limbah cair skala kecil, katalog digital pewarna alam (Natural Dyes Indexation/NADIN), mesin motif batik digital, penerapan PLC (Programmable Logic Controller) untuk batik cap, dan pemanfaatan limbah sawit untuk pembuatan malam (lilin batik), serta pewarna alami. Agus menjelaskan, penerapan inovasi dan teknologi pada industri batik akan berdampak signifikan terhadap penurunan biaya produksi dan konsumsi energi, hingga mendukung industri batik menjadi lebih berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan.

Kendati demikian, Menperin juga mengingatkan agar penerapan teknologi dan inovasi tetap dilakukan dengan berhati-hati dan bertanggung jawab, supaya nilai-nilai tradisional batik tetap terjaga sekaligus lebih ramah lingkungan. Sebagai contoh, IKM Batik Butimo yang telah menghasilkan terobosan mesin CNC (Computer Numerical Control) Batik dan Startup Runsystem yang telah menciptakan ERP (Enterprise Resource Planning) yang membantu manajemen rantai pasok IKM batik.

Meskipun dalam implementasinya penerapan teknologi dan inovasi di kalangan IKM batik masih terhalang oleh sejumlah tantangan, seperti terbatasnya akses teknologi dan rendahnya kesadaran untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Karena itu, Kemenperin bersama YBI mengangkat inovasi dan teknologi sebagai tema dalam perayaan Hari Batik Nasional 2025. Hal Ini sebagai wujud komitmen untuk mendorong transformasi Industri Batik yang lestari secara budaya, ramah lingkungan, sekaligus berdaya saing global.

Ketua Umum YBI Gita Pratama menyampaikan, perubahan zaman yang begitu cepat menuntut pelaku industri untuk terus beradaptasi, termasuk di sektor batik. Sehingga pemanfaatan teknologi, mulai dari digitalisasi proses produksi hingga penguatan platform pemasaran, bukan lagi pilihan tetapi langkah yang perlu diambil bersama.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....