Mengapa Sebagian Anak Menolak Nasi?

  • 13 Sep 2026 19:27 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Nasi telah lama menjadi makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga anak yang tidak mau memakannya kerap membuat orang tua khawatir. Padahal, penolakan tersebut belum tentu menandakan anak nakal, kekurangan gizi, atau mengalami gangguan kesehatan.

Salah satu penyebabnya adalah picky eating menurut Taylor & Emmet, 2019 pada jurnal National Library of Medicine, yakni kecenderungan memilih makanan tertentu dan menolak makanan lain meskipun sudah dikenal. Tinjauan ilmiah dalam Proceedings of the Nutrition Society menjelaskan bahwa perilaku ini umum terjadi pada masa kanak-kanak dan dipengaruhi oleh perkembangan, selera, lingkungan, serta pola makan keluarga.

Kepekaan terhadap tekstur, aroma, rasa, suhu, dan tampilan makanan juga dapat membuat anak enggan menyantap nasi. Kajian dalam jurnal Nutrients menemukan bahwa anak yang suka memilih makanan sering memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap rasa dan aroma, sehingga tekstur nasi yang lengket, terlalu lembek, atau terlalu kering dapat terasa tidak nyaman.

Anak juga mungkin sudah kenyang karena terlalu banyak minum susu, mengonsumsi camilan, atau makan terlalu dekat dengan jadwal makan utama. Sebagian anak bahkan menolak nasi karena lebih menyukai makanan dengan rasa kuat, seperti makanan manis, asin, gurih, atau produk siap saji.

Masih dalam jurnal National Library of Medicine, pengalaman kurang menyenangkan saat makan dapat memperkuat penolakan tersebut, terutama jika anak sering dipaksa, dimarahi, atau dibandingkan dengan anak lain. Tekanan untuk makan justru berpotensi membuat suasana makan menegangkan dan membentuk hubungan negatif dengan makanan.

Orang tua sebaiknya mengenalkan nasi secara bertahap tanpa paksaan, misalnya melalui porsi kecil, tekstur berbeda, atau bentuk menarik. Penelitian mengenai intervensi pada anak pemilih makanan menunjukkan bahwa paparan berulang secara positif dapat meningkatkan penerimaan terhadap makanan yang sebelumnya ditolak.

Tidak makan nasi bukan berarti kebutuhan karbohidrat anak pasti tidak terpenuhi, karena sumber energi dapat diperoleh dari kentang, jagung, singkong, ubi, talas, sagu, roti, pasta, atau oatmeal. Hal terpenting adalah makanan anak tetap beragam serta mengandung karbohidrat, protein, sayur, buah, dan lemak sehat sesuai kebutuhan usianya.

Namun, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi apabila penolakan makanan sangat terbatas, berat badan sulit naik, anak sering tersedak, muntah, atau tampak kesulitan mengunyah dan menelan. Dengan pendekatan yang sabar dan responsif, anak dapat belajar mengenal makanan tanpa menjadikan nasi sebagai sumber tekanan di meja makan.

Sumber: Jurnal National Library of Medicine

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....