Bahaya Filler Berlebih di Wajah, Bisa mengakibatkan Kebutaan dan Stroke

  • 31 Agt 2026 08:41 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Penggunaan dermal filler semakin populer sebagai prosedur estetika untuk menambah volume pada bagian wajah, menyamarkan kerutan, atau membentuk kontur tertentu tanpa operasi. Namun, keinginan mendapatkan perubahan wajah secara cepat dapat membuat seseorang mengabaikan batas penggunaan filler, padahal jumlah, lokasi, teknik penyuntikan, serta jenis bahan yang digunakan turut menentukan keamanan prosedur.

Filler yang terlalu banyak dapat menyebabkan wajah tampak tidak proporsional, muncul benjolan, permukaan kulit tidak rata, pembengkakan, hingga perubahan bentuk akibat bahan filler bergeser dari lokasi penyuntikan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA juga mencatat efek samping seperti memar, kemerahan, nyeri, gatal, infeksi, nodul atau granuloma, sementara sebagian komplikasi dapat muncul beberapa minggu, bulan, bahkan tahun setelah prosedur.

Risiko yang lebih serius terjadi ketika filler masuk secara tidak sengaja ke dalam pembuluh darah atau memberikan tekanan terhadap pembuluh darah di sekitarnya. Kondisi tersebut dapat menghambat aliran darah dan menyebabkan kematian jaringan atau nekrosis, bahkan pada kasus tertentu dapat mengakibatkan gangguan penglihatan, kebutaan, hingga stroke.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Aesthetic Surgery Journal pada 2024 memberikan gambaran mengenai komplikasi tersebut melalui tinjauan kasus kehilangan penglihatan akibat filler. Peneliti mengidentifikasi 365 kasus baru kehilangan penglihatan sebagian atau seluruhnya yang dipublikasikan antara September 2018 hingga Maret 2023, dengan hidung menjadi lokasi paling berisiko sebesar 40,6 persen, disusul dahi 27,7 persen dan area di antara alis atau glabella 19 persen.

Dalam penelitian tersebut, 79,6 persen kasus melibatkan filler berbahan asam hialuronat, sedangkan dari 318 kasus yang memiliki informasi mengenai hasil penglihatan, 68,2 persen tidak mengalami pemulihan penglihatan. Peneliti juga menemukan gejala seperti perubahan kulit, kelopak mata turun, gangguan pergerakan bola mata, dan nyeri, sementara gejala menyerupai stroke ditemukan pada 19,2 persen kasus.

Risiko tersebut memang tergolong jarang, tetapi konsekuensinya dapat sangat berat sehingga pemilihan tenaga medis menjadi bagian penting sebelum menjalani prosedur. FDA merekomendasikan agar filler dilakukan oleh tenaga kesehatan berlisensi yang memiliki pengalaman dan pelatihan dalam prosedur tersebut, menggunakan produk yang jelas identitas serta keamanannya, dan pasien memahami jenis filler maupun potensi risikonya sebelum tindakan dilakukan.

Karena itu, penggunaan filler sebaiknya tidak didasarkan pada keinginan untuk terus menambah volume atau mengikuti standar kecantikan tertentu, melainkan melalui penilaian medis mengenai kebutuhan dan proporsi wajah. Jika setelah penyuntikan muncul nyeri hebat atau tidak biasa, perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan, luka pada area suntikan, atau gangguan penglihatan secara tiba-tiba, kondisi tersebut perlu dianggap sebagai keadaan darurat dan segera mendapatkan penanganan medis karena komplikasi pembuluh darah membutuhkan tindakan cepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....