Anak Mendengkur saat Tidur, Normal atau Perlu Diwaspadai?
- 29 Agt 2026 11:16 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Mendengar anak mendengkur saat tidur mungkin dianggap sebagai hal yang biasa, terutama ketika anak sedang kelelahan atau mengalami hidung tersumbat. Namun, jika dengkuran terjadi secara terus-menerus atau hampir setiap malam, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi tanda adanya gangguan pernapasan saat tidur.
Dengkuran pada anak dapat terjadi ketika aliran udara melalui hidung atau tenggorokan mengalami hambatan, misalnya akibat pembesaran amandel dan adenoid, alergi, maupun masalah pada saluran pernapasan. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak dan remaja yang mendengkur mendapatkan perhatian dalam pemeriksaan kesehatan karena dengkuran dapat menjadi salah satu gejala obstructive sleep apnea syndrome (OSAS).
Penelitian berjudul “Prevalence of habitual snoring and sleep-disordered breathing in preschool-aged children in an Italian community” yang diterbitkan di Journal of Pediatrics menemukan bahwa dengkuran habitual dilaporkan pada 34,5 persen anak dalam survei tersebut, sementara dengkuran patologis ditemukan pada sekitar 12 persen anak yang menjalani pemeriksaan objektif. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa anak yang sering mendengkur lebih mungkin mengalami gejala pada siang hari, termasuk rasa mengantuk.
Penelitian lain berjudul “Prevalence and risk factors of habitual snoring in primary school children” terhadap lebih dari 6.000 anak di China menemukan prevalensi mendengkur habitual sebesar 7,2 persen. Studi tersebut juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan dengkuran, seperti rinitis alergi, indeks massa tubuh yang lebih tinggi, asma, masalah pada sinus, serta radang amandel.
Dengkuran yang disertai tanda seperti napas berhenti sesaat, tersedak atau megap-megap ketika tidur, tidur gelisah, bernapas melalui mulut, atau sering terbangun sebaiknya tidak dianggap sebagai dengkuran biasa. Kondisi tersebut dapat mengarah pada obstructive sleep apnea atau henti napas obstruktif saat tidur, yang apabila tidak ditangani dapat berkaitan dengan masalah perilaku, fungsi kognitif, pertumbuhan, dan kesehatan kardiovaskular.
Dalam jurnal “Primary snoring in school children: prevalence and neurocognitive impairments”, peneliti juga membedakan primary snoring atau dengkuran primer dari gangguan seperti obstructive sleep apnea melalui pemeriksaan tidur. Dari anak yang mendengkur secara habitual dan menjalani pemeriksaan, sebagian memang hanya mengalami dengkuran primer, tetapi sebagian lainnya ditemukan mengalami gangguan pernapasan saat tidur, sehingga frekuensi dan gejala penyerta menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Dengan demikian, anak mendengkur tidak selalu berarti mengalami penyakit, tetapi dengkuran yang berlangsung rutin, keras, atau disertai gangguan pernapasan perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Orang tua sebaiknya mencatat seberapa sering anak mendengkur dan memperhatikan gejala lain selama tidur, karena pemeriksaan lebih lanjut seperti polysomnography dapat dipertimbangkan pada anak yang mendengkur disertai tanda atau gejala OSAS.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....