Stress Diam-diam Merusak Kesehatan Kulit
- 24 Jun 2026 20:35 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Ketika seseorang mengalami tekanan mental yang berat, tubuh secara otomatis akan melepaskan hormon kortisol dalam jumlah besar yang memicu berbagai reaksi negatif pada lapisan epidermis. Peningkatan hormon stres ini memicu kelenjar minyak untuk memproduksi sebum secara berlebih, sehingga pori-pori wajah menjadi tersumbat dan memicu timbulnya jerawat yang meradang.
Sebuah penelitian penting yang diterbitkan dalam Journal of Investigative Dermatology mengungkapkan bahwa stres emosional secara signifikan dapat memperlambat proses penyembuhan luka alami pada kulit. Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa pelepasan penanda inflamasi (peradangan) akibat stres kronis menghambat kemampuan sel keratinosit untuk memperbaiki jaringan kulit yang rusak dengan cepat.
| Baca juga: Penyebab Muka Pucat yang Perlu Diketahui |
Tidak hanya memicu jerawat, tekanan psikologis yang berkepanjangan juga terbukti dapat merusak fungsi skin barrier atau lapisan pelindung terluar kulit kita. Ketika lapisan pelindung ini melemah, kulit akan kehilangan kelembapan alaminya secara drastis sehingga menjadi sangat kering, sensitif, dan rentan terhadap iritasi luar.
Bagi para penderita gangguan kulit kronis seperti eksim dan psoriasis, kondisi pikiran yang stres sering kali menjadi bahan bakar utama yang memperburuk gejala. Hubungan erat antara otak dan kulit ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif, lalu memicu kemunculan bercak merah yang gatal dan bersisik di sekujur tubuh.
Fenomena penuaan dini juga menjadi ancaman nyata yang tidak bisa diremehkan saat Anda terus-menerus berada di bawah tekanan pikiran. Stres kronis memicu proses stres oksidatif yang merusak molekul kolagen dan elastin, dua protein penting yang bertanggung jawab menjaga kekenyalan serta keremajaan kulit wajah.
Studi klinis lain yang dipublikasikan oleh Brain, Behavior, and Immunity memperjelas bahwa stres dapat mengganggu mikrobioma kulit, yaitu ekosistem bakteri baik yang menjaga kesehatan kulit. Ketidakseimbangan mikroorganisme ini menurunkan daya tahan kulit terhadap bakteri penyebab infeksi, sehingga kulit tampak lebih kusam dan mudah mengalami fluktuasi kondisi.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan kulit yang optimal tidak boleh hanya berfokus pada penggunaan produk perawatan luar atau skincare yang mahal saja. Langkah pencegahan terbaik harus dimulai dari dalam dengan mengelola stres melalui meditasi, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup demi mempertahankan kilau alami kulit Anda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....