Anak Lebih Percaya Diri saat Dipuji dengan Tepat

  • 05 Sep 2026 11:07 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Memberikan pujian kepada anak merupakan salah satu cara sederhana yang sering dilakukan orang tua untuk menunjukkan penghargaan terhadap usaha dan pencapaian mereka. Namun, cara memberikan pujian ternyata dapat memengaruhi bagaimana anak memandang kemampuan dirinya, terutama ketika menghadapi kesulitan atau kegagalan.

Pujian seperti “Kamu memang pintar” terdengar positif, tetapi lebih baik jika orang tua memberikan apresiasi yang berfokus pada proses, misalnya “Kamu sudah berusaha keras menyelesaikan tugas itu.” Pujian yang menyoroti usaha, strategi, ketekunan, atau proses belajar membantu anak memahami bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.

Hal tersebut didukung penelitian Elizabeth A. Gunderson bersama Sarah J. Gripshover, Carissa Romero, Carol S. Dweck, Susan Goldin-Meadow, dan Susan C. Levine yang diterbitkan dalam Child Development pada 2013. Penelitian tersebut mengamati 53 anak melalui interaksi alami bersama orang tua ketika berusia sekitar 14, 26, dan 38 bulan, kemudian menemukan bahwa proporsi pujian terhadap usaha pada usia 1–3 tahun berkaitan dengan pola pikir berkembang (growth mindset) ketika anak berusia 7–8 tahun.

Penelitian lanjutan oleh Gunderson dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Developmental Psychology pada 2018 kembali menelusuri 53 anak yang sama hingga kelas empat sekolah dasar. Hasilnya menunjukkan bahwa pujian terhadap proses pada masa balita berkaitan dengan prestasi matematika dan pemahaman membaca sekitar tujuh tahun kemudian, melalui berkembangnya keyakinan bahwa kemampuan dapat berubah dan dikembangkan.

Meski demikian, orang tua tidak perlu memberikan pujian secara berlebihan atau setiap kali anak melakukan sesuatu. Penelitian eksperimen yang melibatkan 150 anak dengan usia rata-rata 7,97 tahun menunjukkan bahwa pujian terhadap proses dapat meningkatkan ketekunan setelah mengalami kegagalan dibandingkan pernyataan kontrol, tetapi para peneliti juga menekankan bahwa dampak pujian dapat bergantung pada konteks.

Karena itu, orang tua dapat membiasakan diri memberikan pujian yang spesifik dan sesuai dengan apa yang dilakukan anak, seperti “Kamu sabar sekali mencoba lagi” atau “Cara kamu mencari jawabannya bagus.” Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics yang menganjurkan pujian positif dan spesifik terhadap usaha serta perkembangan kemampuan anak, sekaligus menghindari pemberian label seperti “anak nakal” atau “anak pintar” sebagai identitas tetap.

Pada akhirnya, pujian bukan sekadar kata-kata untuk membuat anak merasa senang, tetapi juga dapat menjadi sarana membantu mereka membangun cara pandang terhadap kemampuan diri. Dengan menghargai proses, usaha, strategi, dan keberanian untuk mencoba kembali, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa kesalahan bukan akhir dari kemampuan, melainkan bagian dari proses belajar dan berkembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....