Menjalin Komunikasi Hangat agar Anak Nyaman Bercerita
- 05 Okt 2026 05:20 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Percakapan orang tua dan anak sering kali berkisar pada tugas sekolah, nilai ujian, atau kebiasaan yang perlu diperbaiki. Padahal, obrolan tentang pengalaman menyenangkan, rasa kecewa, hingga hal sederhana yang menarik perhatian anak juga layak mendapat ruang dalam keseharian keluarga.
Komunikasi yang hangat dapat dimulai dengan memberikan perhatian ketika anak berbicara, misalnya meletakkan ponsel dan membiarkannya menyelesaikan cerita. Orang tua bisa membuka percakapan dengan pertanyaan seperti, “Hari ini ada kejadian yang paling kamu ingat?” lalu mendengarkan jawabannya tanpa buru-buru memberikan nasihat.
Pentingnya mendengarkan didukung penelitian Netta Weinstein, Andrew Huo, dan Guy Itzchakov dalam Journal of Experimental Child Psychology pada 2021 yang melibatkan 1.001 remaja berusia 13–16 tahun. Setelah melihat video percakapan dengan orang tua yang menunjukkan kualitas mendengarkan lebih baik, peserta memperkirakan akan merasa lebih nyaman dan lebih bersedia bercerita kembali, meskipun penelitian ini mengukur respons terhadap skenario, bukan perubahan perilaku sehari-hari.
Kehangatan juga dapat ditunjukkan dengan mencoba memahami perasaan yang ada di balik cerita anak. Ketika anak kecewa karena tidak diajak bermain, misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Sepertinya kamu sedih karena ingin ikut bersama mereka,” kemudian memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan perasaannya.
| Baca juga: Menjaga Batasan Pribadi dalam Hubungan |
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep emotion coaching, yaitu pendampingan untuk membantu anak mengenali, menyebutkan, dan menghadapi emosinya. Dalam penelitian John M. Gottman, Lynn Fainsilber Katz, dan Carole Hooven di Journal of Family Psychology pada 1996, pendekatan ini mencakup penerimaan terhadap emosi anak serta pemecahan masalah bersama dengan tetap menetapkan batas perilaku.
Dalam penerapannya, orang tua bisa mengatakan, “Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul; ayo kita cari cara menyampaikannya.” Kalimat seperti ini memberi ruang bagi perasaan anak sekaligus menjelaskan perilaku yang perlu dijaga, sehingga percakapan tetap hangat ketika orang tua harus menegur.
Sebagai kebiasaan sehari-hari, orang tua dapat menyediakan waktu mengobrol saat makan bersama, dalam perjalanan, atau menjelang tidur, sambil menghormati ketika anak belum siap bercerita. Jika percakapan sempat diwarnai bentakan, orang tua dapat kembali setelah lebih tenang, meminta maaf atas cara berbicara, dan memberi kesempatan kepada anak untuk melanjutkan ceritanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....