Menjaga Rahasia, Merawat Kepercayaan dan Batas Diri

  • 05 Okt 2026 05:13 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pernah menerima cerita pribadi dari seseorang, lalu mendengar pesan, “Tolong jangan bilang siapa-siapa”? Saat itu, kita menerima kepercayaan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga informasi yang belum ingin ia bagikan kepada orang lain.

Dalam pertemanan maupun keluarga, menjaga rahasia merupakan salah satu cara menghormati privasi seseorang. Cerita tentang masalah pribadi sebaiknya tidak diteruskan sebagai bahan obrolan, meskipun kita merasa orang yang mendengarnya juga dapat dipercaya.

Penelitian Michael L. Slepian dan Katharine H. Greenaway dalam Journal of Experimental Social Psychology pada 2018 menunjukkan bahwa menerima rahasia orang lain dapat menghadirkan kedekatan sekaligus beban. Melalui tiga studi yang melibatkan lebih dari 600 peserta, mereka menemukan bahwa perasaan dipercaya dapat berjalan bersamaan dengan tanggung jawab yang membebani pikiran.

Beban rahasia juga dapat muncul ketika pikiran terus kembali pada informasi tersebut, bahkan saat tidak ada orang yang menanyakannya. Penelitian Slepian, Jinseok S. Chun, dan Malia F. Mason dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2017 menemukan bahwa seringnya pikiran melayang pada rahasia pribadi berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah, terlepas dari seberapa sering seseorang harus menyembunyikannya dalam percakapan.

Sebagai langkah praktis, batas kerahasiaan dapat diperjelas sejak awal dengan menanyakan bagian cerita yang boleh dibagikan dan kepada siapa. Menjaga batas tersebut juga berarti tidak meneruskan tangkapan layar percakapan atau memberikan petunjuk yang membuat orang lain mudah menebak identitas pemilik cerita.

Untuk rahasia pribadi yang terasa membebani, berbicara kepada orang tepercaya dapat menjadi pilihan untuk memperoleh dukungan. Studi Slepian dan Edythe Moulton-Tetlock dalam Social Psychological and Personality Science pada 2019 menunjukkan bahwa menceritakan rahasia dapat membantu seseorang merasa lebih mampu menghadapi persoalannya, sehingga manfaatnya berkaitan dengan dukungan yang diperoleh, bukan sekadar terbukanya informasi.

Temuan tentang berbagi rahasia pribadi tersebut tidak menjadi alasan untuk menyebarkan rahasia milik orang lain tanpa persetujuan. Menjaga rahasia membutuhkan pertimbangan: menghormati privasi dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mencari bantuan yang tepat apabila informasi tersebut menyangkut kekerasan atau ancaman keselamatan.

Jurnal pendukung:

  1. Slepian, M. L., & Greenaway, K. H. (2018). The benefits and burdens of keeping others’ secrets. Journal of Experimental Social Psychology, 78, 220–232. DOI: 10.1016/j.jesp.2018.02.005.
  2. Slepian, M. L., Chun, J. S., & Mason, M. F. (2017). The experience of secrecy. Journal of Personality and Social Psychology, 113(1), 1–33. DOI: 10.1037/pspa0000085.
  3. Slepian, M. L., & Moulton-Tetlock, E. (2019). Confiding secrets and well-being. Social Psychological and Personality Science, 10(4), 472–484. DOI: 10.1177/1948550618765069.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....