Memberi Pengertian pada Anak Usia Remaja, Bukan Sekadar Memberi Nasihat
- 22 Sep 2026 14:03 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Masa remaja merupakan periode ketika anak mulai membangun identitas diri, menginginkan lebih banyak kemandirian, dan mengalami perubahan emosi serta cara berpikir. Karena itu, memberikan pengertian kepada remaja tidak cukup dilakukan dengan perintah atau nasihat satu arah, tetapi membutuhkan komunikasi yang terbuka, empatik, dan menghargai sudut pandang mereka.
Orang tua dapat memulai dengan mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru menyalahkan atau memberikan solusi. UNICEF Indonesia juga menganjurkan orang tua menggunakan pertanyaan terbuka, melakukan parafrasa terhadap ucapan anak, serta memberikan apresiasi ketika remaja berani mengungkapkan perasaan atau masalahnya.
Penelitian berjudul “A Systematic Review of the Association Between Parent-Child Communication and Adolescent Mental Health” yang diterbitkan dalam JCPP Advances pada 2024 menelaah 37 penelitian dan menemukan adanya hubungan antara kualitas komunikasi orang tua-anak yang dilaporkan remaja dengan berbagai aspek kesehatan mental. Temuan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi keluarga merupakan salah satu hal yang relevan dalam upaya mendukung kesehatan mental remaja, meskipun sebagian besar penelitian yang ditinjau bersifat potong lintang sehingga tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.
Memberikan pengertian juga berarti membantu anak memahami alasan di balik sebuah aturan, bukan hanya mengatakan “tidak boleh”. Penelitian “Universal Ingredients to Parenting Teens: Parental Warmth and Autonomy Support Promote Adolescent Well-Being in Most Families” menemukan bahwa kehangatan orang tua dan dukungan terhadap kemandirian berkaitan dengan kesejahteraan remaja dalam sebagian besar keluarga yang diteliti.
Dalam praktik sehari-hari, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai sekolah, pertemanan, penggunaan gawai, hubungan sosial, hingga rencana masa depan dengan bahasa yang tidak menghakimi. Penelitian “Efficacy of a Primary Care-Based Intervention to Promote Parent-Teen Communication and Well-Being: A Randomized Controlled Trial” terhadap 120 remaja usia 13–15 tahun menemukan bahwa intervensi sederhana yang mendorong percakapan tentang kekuatan diri dapat meningkatkan komunikasi terbuka pada remaja yang sebelumnya memiliki tingkat komunikasi terbuka rendah.
Di Indonesia, penelitian berjudul “Komunikasi Interpersonal antara Orang Tua dan Anak Remaja serta Identitas Diri Remaja: Studi di Bina Keluarga Remaja Parupuk Tabing, Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat” juga menyoroti pentingnya komunikasi interpersonal dalam hubungan orang tua dan remaja. Penelitian tersebut menemukan tingkat komunikasi orang tua-anak remaja dalam sampelnya masih berada pada tingkat sedang dan cenderung rendah, sehingga pengembangan komunikasi interpersonal yang efektif dinilai penting untuk mendukung proses perkembangan identitas remaja.
Pada akhirnya, memberi pengertian kepada anak remaja adalah proses membangun kepercayaan agar mereka merasa aman untuk berbicara sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Orang tua tetap perlu menetapkan batas yang jelas, tetapi menyampaikannya dengan tenang, mendengarkan alasan anak, dan membuka ruang dialog sehingga aturan keluarga dapat dipahami sebagai bentuk kepedulian, bukan sekadar larangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....