Bukan Cuma Skincare, Air di Rumah juga Bisa Memengaruhi Kesehatan Skin Barrier
- 01 Sep 2026 21:56 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Selama ini, perawatan skin barrier atau lapisan pelindung kulit lebih sering dikaitkan dengan pemilihan skincare, mulai dari facial wash hingga pelembap. Padahal, air yang digunakan sehari-hari untuk mandi dan mencuci wajah juga dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi kondisi kulit, terutama jika memiliki tingkat kesadahan atau kandungan mineral yang tinggi.
Air sadah atau hard water umumnya mengandung kadar mineral seperti kalsium dan magnesium yang relatif tinggi, dan kondisi tersebut dapat berinteraksi dengan bahan pembersih yang digunakan pada kulit. Residu dari interaksi tersebut berpotensi lebih sulit dibilas dan dapat meninggalkan lapisan pada permukaan kulit, sehingga pada sebagian orang kulit terasa lebih kering, kasar, tertarik, atau mudah mengalami iritasi.
Salah satu penelitian yang banyak menjadi rujukan dilakukan oleh para peneliti dari King's College London dan sejumlah institusi terkait, kemudian diterbitkan dalam British Journal of Dermatology pada 2020. Studi longitudinal terhadap 1.303 bayi dalam proyek Enquiring About Tolerance (EAT) menunjukkan bahwa secara keseluruhan paparan air yang lebih sadah tidak secara signifikan meningkatkan risiko eksim, tetapi pada bayi dengan mutasi gen FLG tertentu, risiko eksim lebih tinggi dengan adjusted hazard ratio 2,72.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Journal of Investigative Dermatology juga menemukan mekanisme yang menarik antara air sadah dan produk pembersih. Dalam penelitian tersebut, kulit yang dicuci menggunakan air sadah mengalami deposisi sodium lauryl sulfate atau SLS yang lebih tinggi, dan residu tersebut berkaitan dengan peningkatan transepidermal water loss atau TEWL serta iritasi kulit, terutama pada individu dengan dermatitis atopik.
| Baca juga: Buah Lebih Manis saat Kemarau |
Temuan tersebut diperkuat melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Clinical & Experimental Allergy pada 2021, yang menganalisis 16 penelitian mengenai hubungan kesadahan air dengan eksim dan fungsi skin barrier. Dari tujuh studi observasional dengan total 385.901 peserta, anak-anak yang terpapar air lebih sadah memiliki peluang mengalami dermatitis atopik sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang terpapar air lebih lunak, meski peneliti menilai tingkat kepastian bukti tersebut masih sangat rendah.
Meski demikian, bukan berarti air keran di rumah otomatis berbahaya bagi kulit atau setiap orang membutuhkan alat pelembut air. Penelitian yang sama justru menemukan dua uji terkontrol secara acak belum menunjukkan perbedaan bermakna dalam tingkat keparahan eksim setelah penggunaan pelembut air, sehingga kondisi kulit juga dipengaruhi faktor genetik, produk pembersih, frekuensi mandi, suhu air, cuaca, serta kebiasaan perawatan kulit.
Karena itu, menjaga skin barrier tidak cukup hanya dengan membeli skincare yang tepat, tetapi juga memperhatikan kebiasaan ketika menggunakan air di rumah. Gunakan air dengan suhu tidak terlalu panas, pilih pembersih yang lembut, hindari menggosok kulit terlalu keras, dan segera aplikasikan pelembap setelah mandi atau mencuci wajah, terutama jika kulit mudah kering dan sensitif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....