Setelah FOMO, Kini Muncul JOMO: Ketika Memilih “Ketinggalan”
- 31 Agt 2026 15:43 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah Fear of Missing Out (FOMO) sudah akrab digunakan untuk menggambarkan rasa takut tertinggal dari tren, aktivitas, atau kehidupan sosial orang lain, terutama di media sosial. Kini muncul istilah Joy of Missing Out (JOMO), yakni kondisi ketika seseorang justru merasa nyaman dan bahagia karena memilih tidak ikut dalam semua aktivitas yang sedang ramai dilakukan orang lain.
JOMO bukan berarti seseorang sengaja mengisolasi diri atau tidak peduli terhadap lingkungan sosial, melainkan kemampuan untuk menentukan apa yang benar-benar ingin dilakukan tanpa merasa bersalah karena melewatkan sesuatu. Seseorang dengan kecenderungan JOMO dapat memilih mematikan notifikasi, tidak mengikuti tren tertentu, atau menolak ajakan berkegiatan karena ingin menikmati waktu untuk diri sendiri.
Konsep ini menjadi semakin relevan di tengah kehidupan digital yang membuat seseorang dapat mengetahui aktivitas orang lain hampir sepanjang waktu. Penelitian Andrew K. Przybylski dan tim yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior pada 2013 menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan rendahnya pemenuhan kebutuhan psikologis, suasana hati dan kepuasan hidup, sekaligus keterlibatan yang lebih tinggi dengan media sosial.
Sementara itu, penelitian mengenai JOMO menunjukkan bahwa memilih untuk tidak selalu terhubung dengan dunia digital dapat memiliki sisi positif, meskipun dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang. Studi yang diterbitkan dalam Current Psychology pada 22 Agustus 2026 oleh Tali Gazit, Tal Eitan dan Jon D. Elhai meneliti hubungan penggunaan media sosial, perbandingan sosial, FOMO, JOMO dan kesejahteraan psikologis.
| Baca juga: Hidup tanpa Target, Bebas atau Tersesat? |
Penelitian lain yang terbit pada 2025 juga menemukan hubungan menarik antara JOMO, kecanduan media sosial dan kesejahteraan psikologis. Dalam penelitian tersebut, individu dengan kombinasi FOMO rendah dan JOMO tinggi memiliki tingkat kecanduan yang paling rendah serta tingkat kesejahteraan yang paling tinggi, sedangkan kelompok dengan FOMO tinggi dan JOMO rendah menunjukkan kondisi sebaliknya.
Dalam kehidupan sehari-hari, JOMO dapat diterapkan dengan memberikan batas pada penggunaan media sosial, tidak merasa wajib mengikuti setiap tren, serta menyediakan waktu untuk aktivitas yang benar-benar memberikan kepuasan. Namun, JOMO juga tidak berarti harus menghindari hubungan sosial, sebab manusia tetap membutuhkan interaksi, dukungan dan rasa terhubung dengan orang lain.
Pada akhirnya, peralihan dari FOMO menuju JOMO lebih berkaitan dengan kemampuan memilih daripada sekadar meninggalkan media sosial. Ketika seseorang mulai merasa tidak harus hadir di setiap tempat, mengikuti setiap tren atau mengetahui semua hal yang sedang terjadi, waktu yang sebelumnya habis untuk mengejar kehidupan orang lain dapat digunakan untuk menikmati kehidupan sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....