Bukan Cuma Kurang Olahraga, Terlalu Banyak Duduk juga Bisa Mempengaruhi Kesehatan

  • 29 Agt 2026 06:00 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kebiasaan duduk terlalu lama sering dianggap hanya berdampak pada kesehatan fisik, seperti meningkatnya risiko obesitas, diabetes, atau penyakit jantung. Padahal, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa perilaku sedentari atau aktivitas dengan pengeluaran energi rendah saat terjaga juga berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, termasuk stres, kecemasan, suasana hati, dan kesejahteraan psikologis.

Perilaku sedentari tidak hanya terjadi ketika seseorang duduk di depan komputer selama bekerja, tetapi juga saat menonton televisi, bermain gim, menggunakan ponsel, berkendara, atau duduk dalam waktu lama saat belajar. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan bahwa terlalu banyak perilaku sedentari tidak sehat dan menganjurkan masyarakat mengurangi waktu duduk sekaligus memperbanyak aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan antara duduk terlalu lama dan kesehatan mental juga menjadi perhatian penelitian terbaru. Sebuah scoping and mapping review yang diterbitkan dalam jurnal Mental Health and Physical Activity pada Maret 2026 memetakan 144 penelitian mengenai hubungan perilaku sedentari dengan enam dimensi stres, tetapi peneliti mengingatkan bahwa sebagian besar bukti masih berasal dari penelitian potong lintang dan laporan berdasarkan penilaian diri sehingga hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Frontiers in Education pada 18 Agustus 2026 secara khusus meninjau hubungan aktivitas fisik, perilaku sedentari, tidur, dan kesehatan mental pada mahasiswa. Zhe Weng dan Xin Wang menelusuri EMBASE, MEDLINE, PsycINFO, serta Web of Science hingga Januari 2026 dan dari 3.078 catatan penelitian, 13 studi yang melibatkan mahasiswa akhirnya memenuhi kriteria tinjauan, dengan ukuran sampel masing-masing penelitian berkisar 36 hingga 1.062 peserta.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan mental tidak selalu sederhana, terutama untuk gejala depresi, karena temuan antarpenelitian masih tidak konsisten. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dipengaruhi banyak faktor dan durasi duduk tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab seseorang mengalami stres, kecemasan, atau depresi.

Meski demikian, mengurangi waktu sedentari tetap menjadi bagian penting dari pola hidup sehat karena aktivitas fisik memiliki manfaat langsung bagi kesehatan mental. WHO menyebut aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan, meningkatkan kemampuan berpikir, pembelajaran, kualitas tidur, serta kesejahteraan secara keseluruhan, sementara rekomendasinya bagi orang dewasa adalah 150 hingga 300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu atau aktivitas intensitas berat dalam jumlah yang setara.

Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dengan olahraga berat, tetapi dapat dilakukan dengan mengurangi waktu duduk dan menyisipkan lebih banyak gerakan sepanjang hari. Berdiri secara berkala saat bekerja, berjalan kaki ketika menerima telepon, menggunakan tangga, melakukan pekerjaan rumah, atau meluangkan waktu untuk berjalan santai dapat menjadi langkah sederhana untuk membuat tubuh lebih aktif, sementara jika seseorang mengalami stres, kecemasan, atau perubahan suasana hati yang menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....