Fenomena “Sound Horeg”: antara Hiburan, Etika Sosial, dan Dampak Kesehatan

  • 01 Agt 2026 12:48 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Belakangan ini, istilah sound horeg semakin populer di berbagai daerah, terutama di kalangan anak muda. Sound horeg merujuk pada penggunaan sistem audio berdaya besar dengan suara sangat keras, biasanya dipakai dalam acara hiburan seperti hajatan, konvoi, hingga festival jalanan. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai bentuk ekspresi dan hiburan. Namun di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan persoalan etika dan kesehatan.

Dari sudut pandang komunikasi, penggunaan sound horeg di ruang publik seringkali mengabaikan kenyamanan orang lain. Ahli komunikasi dalam buku Communication Ethics: Literacy, Dialogue, and Difference karya Ronald C. Arnett menekankan bahwa komunikasi di ruang publik harus mempertimbangkan prinsip tanggung jawab sosial. Artinya, setiap individu perlu menyadari bahwa tindakan yang dilakukan—termasuk penggunaan suara—memiliki dampak terhadap orang di sekitarnya.

Selain itu, kebisingan berlebihan juga dapat mengganggu kualitas interaksi sosial. Orang menjadi sulit berkomunikasi, konsentrasi terganggu, bahkan bisa memicu konflik antarwarga. Dalam konteks ini, sound horeg bukan hanya soal hiburan, tetapi juga berkaitan dengan etika hidup bersama.

Dari sisi kesehatan, suara dengan intensitas tinggi berpotensi menimbulkan dampak serius. Menurut penelitian dalam World Health Organization (WHO) Guidelines for Community Noise, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama dapat merusak pendengaran secara permanen. Bahkan, dokter spesialis THT menjelaskan bahwa kebisingan ekstrem tidak hanya berdampak pada telinga, tetapi juga dapat memicu stres, gangguan tidur, hingga peningkatan tekanan darah.

Dokter juga mengingatkan bahwa efek kebisingan seringkali tidak langsung terasa, tetapi bisa muncul secara bertahap. Misalnya, telinga berdenging, sulit mendengar percakapan, hingga gangguan konsentrasi. Kondisi ini tentu berbahaya jika terjadi terus-menerus tanpa disadari.

Meski demikian, bukan berarti sound horeg harus sepenuhnya dilarang. Kuncinya adalah pengaturan yang bijak, seperti membatasi volume suara, durasi penggunaan, serta memperhatikan waktu dan lokasi. Dengan begitu, hiburan tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu orang lain.

Pada akhirnya, fenomena sound horeg menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial. Menikmati hiburan itu penting, tetapi menjaga kenyamanan bersama jauh lebih utama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....