Afirmasi Positif: Benar Efektif atau Sekadar Sugesti?

  • 25 Jul 2026 06:31 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Afirmasi positif semakin banyak dipraktikkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan membangun rasa percaya diri. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak yang mempertanyakan apakah afirmasi benar-benar memberikan manfaat atau hanya menjadi sugesti yang membuat seseorang merasa lebih baik untuk sementara waktu.

Dalam dunia psikologi, afirmasi positif dipahami sebagai upaya mengingatkan diri terhadap nilai, kemampuan, dan tujuan hidup yang dimiliki. Tujuan utamanya bukan menciptakan perubahan secara instan, melainkan membantu seseorang merespons tekanan, kritik, atau kegagalan dengan cara yang lebih adaptif sehingga tidak mudah terjebak dalam pola pikir negatif.

Temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa afirmasi memang memiliki manfaat, meski efeknya tidak sebesar yang sering digambarkan di media sosial. Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal American Psychologist pada 2024 menganalisis 129 uji penelitian dari 67 artikel ilmiah dan menemukan bahwa intervensi afirmasi diri memberikan dampak positif yang kecil namun signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, persepsi diri, serta mampu mengurangi hambatan psikologis. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat afirmasi tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi dapat bertahan lebih lama apabila dilakukan secara konsisten.

Hasil tersebut diperkuat oleh penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2024 yang mengevaluasi bagaimana seseorang menggunakan afirmasi diri secara spontan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian itu menemukan bahwa individu yang terbiasa mengingat kembali kekuatan, nilai hidup, atau hubungan positif yang dimilikinya cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan psikologis dan menjaga kesehatan mental.

Meski demikian, para psikolog mengingatkan bahwa afirmasi bukanlah "kalimat ajaib" yang dapat mengubah hidup tanpa tindakan nyata. Afirmasi akan bekerja lebih efektif jika sesuai dengan kondisi diri dan dibarengi dengan usaha konkret, seperti belajar, memperbaiki kebiasaan, atau mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah psikologis yang lebih kompleks.

Sebaliknya, afirmasi yang terlalu jauh dari keyakinan seseorang justru berpotensi menimbulkan efek sebaliknya. Misalnya, seseorang yang sedang kehilangan rasa percaya diri mengulang kalimat "Saya adalah orang paling sukses" tanpa disertai keyakinan atau langkah nyata dapat memunculkan konflik batin sehingga afirmasi terasa tidak autentik dan sulit diterima oleh pikirannya.

Pada akhirnya, afirmasi positif bukan sekadar sugesti, tetapi juga bukan solusi tunggal untuk semua persoalan. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa afirmasi dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis apabila digunakan secara realistis, konsisten, dan dipadukan dengan perubahan perilaku serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....