Menemukan Girlhood Core Lewat Film Hangat Penuh Rasa

  • 04 Feb 2026 22:15 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah girlhood core belakangan sering dipakai untuk menggambarkan fase menikmati keintiman dengan diri sendiri, persahabatan perempuan, emosi yang lembut, serta proses tumbuh yang pelan namun bermakna. Nuansanya hangat, penuh perasaan, dan sering kali terasa dekat dengan keseharian perempuan muda yang sedang belajar memahami dirinya. Film menjadi salah satu medium yang pas untuk menangkap suasana ini, karena mampu menghadirkan cerita sederhana yang diam-diam membekas lama setelah selesai ditonton.

Salah satu film yang hampir selalu masuk daftar girlhood core adalah Pride and Prejudice (2005). Lewat karakter Elizabeth Bennet, penonton diajak menyelami pergulatan batin perempuan muda yang cerdas, mandiri, dan berani mempertahankan prinsipnya di tengah tekanan sosial. Visual yang lembut, dialog yang tenang, serta hubungan antarperempuan dalam keluarga Bennet membuat film ini terasa intim dan menenangkan, seolah mengajak penonton menikmati hidup dengan ritme yang lebih lambat.

Selain itu, Little Women (2019) juga menjadi tontonan yang sangat merepresentasikan girlhood core. Kisah empat saudari March memperlihatkan dinamika mimpi, kecemburuan, dukungan, dan cinta yang tumbuh di antara perempuan. Film ini tidak hanya berbicara tentang cinta romantis, tetapi juga tentang ambisi, pilihan hidup, dan bagaimana perempuan saling menguatkan di masa sulit, sesuatu yang kerap hadir dalam proses tumbuh dewasa.

Nuansa girlhood yang lebih ringan dan ceria dapat ditemukan dalam Wild Child (2008). Film ini menggambarkan perjalanan seorang remaja perempuan yang perlahan belajar mengenal dirinya melalui lingkungan baru, konflik kecil, dan persahabatan. Ceritanya terasa dekat dengan fase remaja, ketika rasa percaya diri, empati, dan penerimaan diri tumbuh lewat pengalaman yang tidak selalu sempurna.

Sementara itu, The Parent Trap (1998) menghadirkan kehangatan girlhood core melalui sudut pandang anak perempuan dan relasi keluarga. Kisah tentang persaudaraan, kerinduan, dan harapan ini dikemas dengan ringan, namun tetap emosional. Tanpa konflik yang berat, film ini menampilkan bahwa girlhood juga tentang keberanian, rasa ingin tahu, dan keinginan sederhana untuk merasa utuh.

Representasi girlhood yang penuh kepekaan dan imajinasi juga terasa kuat dalam Anne with an E. Karakter Anne Shirley digambarkan sebagai sosok perempuan muda yang emosional, peka, dan berani menjadi diri sendiri meski sering dianggap berbeda. Serial ini memperlihatkan bahwa tumbuh dewasa tidak selalu mudah, tetapi bisa dijalani dengan kejujuran pada perasaan, rasa ingin tahu, dan harapan yang terus dipelihara.

Lewat film dan serial ini, girlhood core tidak hanya hadir sebagai tren estetika, melainkan sebagai ruang aman untuk memahami diri, merayakan perasaan, dan menerima bahwa proses tumbuh tidak selalu harus keras. Menonton cerita-cerita dengan nuansa hangat ini bisa menjadi bentuk me time yang sederhana, namun memberi kelegaan dan pengingat bahwa setiap fase hidup layak untuk dirasakan sepenuhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....