Harga Emas Tertekan, Sentimen Global Picu Penurunan Signifikan

  • 05 Mei 2026 11:00 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kondisi pasar emas global saat ini tengah dibayangi oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi internasional. Tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan di Selat Hormuz memaksa pelaku pasar mengantisipasi kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama.

Tren pelemahan harga internasional tersebut berdampak langsung pada harga logam mulia domestik yang tercatat mengalami koreksi cukup dalam pada pembukaan perdagangan hari ini. Para investor cenderung bersikap defensif di tengah dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menunjukkan kebuntuan negosiasi.

Berdasarkan rincian harga resmi, harga emas batangan bersertifikat di Indonesia hari ini Selasa, 5 Mei 2025 dipatok sebesar Rp2.760.000 per gram. Angka ini menunjukkan penurunan tajam sebesar Rp35.000 dibandingkan dengan posisi pada perdagangan hari sebelumnya.

Penurunan yang lebih signifikan terjadi pada harga jual kembali atau buyback yang menjadi acuan bagi masyarakat yang ingin menjual simpanan emasnya. Harga buyback tercatat merosot Rp40.000 per gram, sehingga kini berada di level Rp2.545.000 per gram.

Selisih atau spread antara harga beli dan harga jual kembali yang melebar hingga Rp215.000 per gram menuntut ketelitian ekstra dari para kolektor logam mulia. Kondisi ini mempertegas karakteristik emas sebagai instrumen investasi jangka panjang yang sangat bergantung pada momentum waktu masuk dan keluar pasar.

Bagi transaksi fisik di butik resmi, harga tersebut belum termasuk potongan pajak sesuai dengan regulasi Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 yang berlaku. Pembeli yang menyertakan NPWP akan dikenakan tarif pajak sebesar 0,45%, sementara pembeli tanpa NPWP dibebankan tarif yang lebih tinggi yakni 0,9%.

Para analis memperkirakan pergerakan harga emas dalam beberapa hari ke depan masih akan bersifat fluktuatif mengikuti rilis data ekonomi global terbaru. Masyarakat disarankan untuk terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan eskalasi konflik di Timur Tengah sebelum melakukan transaksi besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....