Kopi Bengkulu Tembus Pasar Italia

  • 07 Sep 2026 20:59 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pelepasan ekspor perdana kopi Bengkulu digelar di Halaman Kantor Bupati Kepahiang oleh Wakil Gubernur Bengkulu Mian, Senin 7 September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Kepahiang Zurdinata, Bupati Lebong Azhari, serta Sekda Lebong dan Sekda Rejang Lebong.

Ekspor tersebut diinisiasi PT Alko Sumatera Kopi termasuk dalam memperkuat pendampingan petani di Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong. Perusahaan juga membuka kantor cabang di Desa Belitar untuk memastikan hasil panen petani memenuhi standar kualitas ekspor.

Eksor sebanyak 19,2 ton ini menjadi ekspor perdana tujuan Italia dan melibatkan petani tiga kabupaten tersebut. Nilai ekspornya tak tanggung-tanggung mencapai 71 dolar AS atau Rp1, 2 miliar.

CEO PT Alko Sumatera Kopi, Suryono, mengatakan kantor cabang tersebut salah satunya difokuskan untuk melakukan quality control terhadap hasil panen kopi petani. Pengawasan kualitas dilakukan agar biji kopi yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan pasar internasional.

"Perusahaan kami saat ini membuka cabang di Desa Belitar untuk melakukan quality control. Agar biji kopi Bengkulu bisa masuk standar ekspor," ujar Suryono.

Menurut Suryono, Kepahiang memiliki potensi produksi kopi yang besar, tetapi sebagian hasil panennya belum memenuhi standar ekspor. Kondisi itu salah satunya disebabkan belum adanya pelaku lokal yang mampu menjadi eksportir dengan standar pasar internasional.

"Selama ini persoalan di Kabupaten Kepahiang, biji kopi banyak tetapi tidak masuk standar ekspor. Belum ada lokal champion yang menjadi pelaku eksportir dengan standar ekspor," katanya.

Untuk meningkatkan kualitas tersebut, PT Alko Sumatera Kopi juga mendirikan koperasi di Desa Belitar. Koperasi ini menjadi bagian dari pendampingan petani mulai dari budidaya hingga menghasilkan biji kopi sesuai standar ekspor.

Suryono menjelaskan, pemenuhan standar ekspor tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan proses seleksi. Pihaknya membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk memastikan biji kopi yang dihasilkan petani memenuhi standar.

Kopi yang diekspor merupakan grade 1 dan telah memenuhi standar yang dibutuhkan untuk pasar Italia. Permintaan dari pasar tersebut cukup besar, tetapi pengiriman dilakukan secara bertahap sambil meningkatkan kemampuan petani dalam menghasilkan kopi berkualitas.

"Kualitas biji kopi yang diekspor ini adalah grade 1 dan ada standar SNI untuk pasar di Italia. Sebenarnya permintaan lumayan, tetapi kita perlu bertahap agar biji kopi yang dihasilkan petani memenuhi standar," jelas Suryono.

Selain kualitas, keterlacakan atau traceability menjadi persyaratan penting untuk pasar Eropa. Setiap biji kopi yang diekspor harus memiliki informasi jelas mengenai asal-usulnya, termasuk lokasi kebun tempat kopi tersebut diproduksi.

Ketentuan tersebut berkaitan dengan EUDR (EU Deforestation Regulation) yang diterapkan Uni Eropa. Regulasi ini menjadi perhatian eksportir karena produk yang masuk pasar Eropa harus dapat dipastikan tidak berasal dari kawasan yang terkait deforestasi.

"Salah satu standar adalah traceability, jadi asal-usul kopi harus jelas. Ini terkait isu EUDR, regulasi tentang bebas deforestasi," tutur Suryono.

Menurutnya, keterlacakan harus mampu menunjukkan lokasi kebun asal kopi secara jelas. Kopi yang terindikasi berasal dari taman nasional atau kawasan hutan lindung dapat ditolak untuk masuk pasar Eropa.

"EUDR itu mengharuskan kopinya harus jelas berasal dari daerah mana, kebunnya dari mana. Tidak terindikasi di area taman nasional atau kawasan hutan lindung. Kalau terindikasi itu dari hutan lindung, maka otomatis ditolak," kata dia.

Untuk memenuhi kebutuhan ekspor tersebut, PT Alko Sumatera Kopi melibatkan empat kelompok tani. Kelompok tani tersebut memasok kopi yang dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan pengiriman.

Total kopi yang diekspor ke Italia mencapai 19,2 ton dengan nilai sekitar 71 ribu dolar Amerika Serikat atau setara Rp1,240 miliar. Kopi tersebut dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Meski pengiriman dilakukan melalui Jakarta, Suryono memastikan komoditas tersebut tetap tercatat sebagai ekspor Bengkulu. Hal itu dibuktikan dengan Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal yang menyatakan asal komoditas dari Bengkulu.

"Pengiriman lewat Pelabuhan Tanjung Priok, tetapi tetap diakui sebagai ekspor Bengkulu. Ada Certificate of Origin," kata Suryono mengakhiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....