KPPL: Bengkulu Miliki Dua Habitat Rafflesia Haselti

  • 27 Nov 2025 19:40 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Bunga Rafflesia Haselti baru-baru ini mekar di Sumpur, Kudus, Sumatera Barat. Kawasan tempat bunga itu mekar merupakan kawasan Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LHPN) Sumatera Barat.

Bunga ini merupakan salah satu jenis Rafflesia yang terbilang paling sulit untuk ditemukan. Namun, Bengkulu merupakan salah satu lokasi yang tercatat sebagai habitat bunga langka ini, dan terdokumentasi setidaknya tiga kali mekar di Bengkulu.

Ketua Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Sofian mengatakan, bunga Rafflesia Haselti tidak pernah hilang. Hanya saja tumbuhnya sangat jarang diketahui, karena biasanya berada dilokasi yang sulit untuk ditembus.

Bunga ini mekar di hutan Ketenong II Kabupaten Lebong, tahun 2006. Diduga mekar setiap tahun di lokasi tersebut, namun kawasan itu sangat sulit dijangkau.

Tahun 2023 dan 2024, bunga ini mekar di kabupaten Rejang Lebong, tepatnya desa Tanjung Gelang, kecamatan Kota Padang. KPPL mengkonfirmasi kepada Iskandar, pegiat lokal di Rejang Lebong, jika tahun ini sepertinya tidak ada ada Rafflesia Haselti yang terpantau mekar.

Perihal penemuan bunga Rafflesia Haselti di Sumpur, Sumatera Barat, pihak KPPL Bengkulu mengatakan tidak terlihat sama sekali. Sofian juga menolak jika organisasinya dicatut oleh pihak manapun dalam ekspedisi tersebut.

"Tidak ada komunikasi dalam bentuk apapun, baik itu surat, atau hanya pesan singkat. Tidak ada pembahasan ini baik dengan BRIN ataupun pihak Oxford," kata Sofian (27/11/25).

Sementara itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Joko Ridho Witono mengatakan jika kunjungan ke Sumpur merupakan ekspedisi bersama dengan Oxford, yang sebenarnya tidak dijadwalkan. Adapun ekspedisi sebenarnyo adalah ke kabupaten Rejang Lebong untuk melihat bunga Rafflesia Arnoldi yang sedang mekar.

Saat awal ia menduga jika KPPL Bengkulu ikut serta terlibat dalam ekspedisi. Namun belakangan diketahui jika pihak KPPL tidak terlibat.

Sementara itu, Profesor Agus Susatya, peneliti botani sekaligus Guru Besar Universitas Bengkulu, menyebut populasi Rafflesia Hasselti sangat kecil dan terfragmentasi sehingga berstatus sangat kritis. "Memang populasinya kecil, istilahnya critical endangered. Bunganya dalam satu lokasi itu mungkin, kurang dari 10 kuncup, ya," katanya.

Dalam prosesnya, banyak kuncup bunga yang mati sebelum mekar. Hal ini menjadikan spesies ini semakin rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....