Penjelasan Supir Lintas Sumatera Soal Kode Bak Truk

  • 16 Jan 2025 12:25 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Pernahkah melihat truk angkutan, mobil box, dan ekspedisi yang pada bagian belakangannya banyak coretan? Berupa kode atau logo tertentu yang juga bisa dijumpai pada angkutan truk lainnya.

Supir salah satu alat kendaraan bermotor Herman mengatakan jika logo itu merupakan tanda dari ormas atau kelompok tertentu. Jika menjadi supir lintas Sumatera maka hal itu bukan hal baru.

Truk yang melintas dan baru pertama kalinya biasanya akan distop, pemasangan logo dari cat semprot berarti mobil tersebut sudah dikawal, sehingga tidak diganggu oleh pihak-pihak lain. Saat batas kekuasaan kelompok tersebut selesai, maka akan ada kelompok lain yang akan memasangkan logo lainnya, pertanda jika saat di kawasan itu keamanan kendaraan dan pengemudi menjadi tanggung jawabnya.

"Dia itu semacam segel, kalau kita sudah ada logo itu, maka kelompok lain mau mintak pungutan misalnya nggak jasi. Katanya itu jasa pengawalan, tapi nggak gratis itu," kata Herman.

Setiap truk katanya dikenakan tarif mulai dari Rp500.000. Jika menjadi supir lintas Sumarera, maka stempel pada bagian belakang mobil truk atau box bisa mencapai 5 kelompok.

"Antara aman dan nggak aman, kita dipaksa sama mereka ibarat preman lah. Kalau nggak kita ambil kita diganggu juga sama kelompoknya preman lain kan serba salah," kata Herman.

Di jalan lintas Bengkulu penempelan logo tersebut tidak ditemukan, namun banyak dijumpai saat di wilayah Lampung dan Sumsel. Sayangnya aktivitas itu sudah berjalan puluhan tahun sehingga mustahil tidak diketahui aparat.

Wira, seorang supir mobil box juga mengalami pengalaman serupa, Ia mengaku banyak orang tak tau jika logo-logo yang termpampang itu adalah bentuk pungutan liar. Meski kadang ditertibkan, aksi tersebut tak pernah hilang.

"Mobil saya pernah di tutup logo-logo atau stempel tadi sama polisi dan dishub, tapi itu nggak nyelesaikan masalan. Waktu saya balik lagi, ketemu lagi kelompok tadi, dicap lagi, bayar lagi," kata Wira.

Ia mengatakan justru bukan mobil yang menjadi korban pungli yang diperiksa, aparat semestinya turun langsung melihat kejadian di lapangan. Mereka biasanya menawarkan jasa pengawalan di tempat-tempat permberhentian, seperti warung, rumah makan, hingga SPBU.

"Tapi kalau Bengkulu belum nemun saya. Kalau mintak pungli di jalan banyak, tapi kalau masang merek itu nggak ada," ujar Wira.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....