Sejarah Enggrang di Indonesia, Permainan Tradisional yang Tak Lekang oleh Zaman
- 18 Agt 2026 06:22 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu : Bagi generasi yang tumbuh sebelum permainan digital mendominasi, enggrang atau egrang menjadi salah satu permainan tradisional yang menghadirkan tantangan sekaligus keseruan. Menggunakan dua batang bambu yang dilengkapi pijakan untuk kaki, pemain harus menjaga keseimbangan sambil berjalan di atasnya. Permainan ini hingga kini masih dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan budaya dan perlombaan rakyat, termasuk saat perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejarah egrang di Indonesia diperkirakan telah dikenal sejak masa sebelum kemerdekaan. Buku Serunya Permainan Tradisional Anak Zaman Dulu yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa egrang telah muncul setidaknya sejak masa penjajahan Belanda. Dalam perkembangannya, permainan ini kemudian dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia.
Menariknya, egrang tidak memiliki satu nama yang sama di seluruh Indonesia. Masyarakat Jawa Tengah mengenalnya sebagai jangkungan, sementara di Bengkulu disebut ingkau. Di Sumatera Barat, permainan ini dikenal dengan nama tengkak-tengkak, sedangkan di Kalimantan terdapat sebutan batungkau. Perbedaan nama tersebut menunjukkan bagaimana satu bentuk permainan dapat berkembang dan beradaptasi dengan budaya lokal di berbagai wilayah Nusantara.
Bentuk egrang pun relatif sederhana. Dua batang bambu panjang diberi pijakan pada bagian bawah sehingga pemain dapat berdiri lebih tinggi dari permukaan tanah. Meski terlihat mudah, berjalan menggunakan egrang membutuhkan keseimbangan, ketenangan, ketepatan langkah dan keberanian. Karena itu, seseorang biasanya membutuhkan latihan berulang kali sebelum mampu berjalan dengan lancar.
Lebih dari sekadar hiburan, egrang menyimpan nilai pendidikan. Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut permainan ini dapat mengajarkan kerja keras, keberanian, ketekunan dan kesabaran. Dalam permainan tradisional, anak juga belajar menghadapi kegagalan dan mencoba kembali hingga berhasil.
Keberadaan egrang juga terus dipertahankan melalui berbagai festival dan perlombaan. Di sejumlah daerah, permainan ini menjadi bagian dari kegiatan budaya masyarakat. Bahkan, penelitian mengenai masyarakat Monggak, Batam, menunjukkan bahwa egrang masih bertahan sebagai tradisi yang diwariskan antargenerasi. Pada 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menilai egrang relevan sebagai aktivitas yang dapat menjadi jeda dari intensitas kehidupan digital sekaligus mengajarkan keseimbangan, kerja sama dan gotong royong.
Kini, di tengah maraknya permainan berbasis gawai, enggrang menjadi pengingat bahwa permainan sederhana juga dapat membawa nilai budaya yang kuat. Dari sebatang bambu dan pijakan kecil, lahir permainan yang mengajarkan keseimbangan, keberanian dan pantang menyerah. Ketika kembali dimainkan dalam perayaan kemerdekaan atau festival budaya, enggrang bukan sekadar nostalgia, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan permainan tradisional Indonesia agar tetap dikenal generasi berikutnya.
Sumber : Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....