Nilai Tukar Petani Bengkulu Turun 2,52 Persen pada Juni 2026, Ini Pemicunya
- 05 Jul 2026 22:32 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Turunnya NTP dipengaruhi oleh melemahnya indeks harga yang diterima petani, sementara biaya yang harus dikeluarkan petani justru mengalami kenaikan.
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal, mengatakan NTP Provinsi Bengkulu pada Juni 2026 tercatat sebesar 196,87, atau turun 2,52 persen dibandingkan Mei 2026. Penurunan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 1,96 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik sebesar 0,57 persen.
"Kondisi ini menunjukkan daya tukar hasil pertanian terhadap pengeluaran petani mengalami penurunan," ujar Win Rizal, dikutip Minggu 5 Juli 2026.
Ia menjelaskan, penurunan NTP pada Juni 2026 terutama dipengaruhi melemahnya kinerja tiga subsektor utama. Subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan NTP paling besar, yakni 3,58 persen, diikuti subsektor perikanan yang turun 2,26 persen, serta subsektor peternakan yang menurun 1,66 persen.
Di sisi lain, terdapat dua subsektor yang mencatat peningkatan NTP. Subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen, sedangkan subsektor hortikultura mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 13,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Selain NTP, BPS juga mencatat penurunan pada Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP). Pada Juni 2026, NTUP Bengkulu berada di angka 194,80, atau turun 3,31 persen dibandingkan Mei 2026.
Menurut Win Rizal, NTP merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kemampuan atau daya beli petani. Ketika NTP mengalami penurunan, hal tersebut menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani dari hasil produksi cenderung menurun dibandingkan dengan biaya yang harus mereka keluarkan, baik untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga.
Meski demikian, NTP Bengkulu yang masih berada jauh di atas angka 100 menunjukkan bahwa secara umum pendapatan petani masih lebih tinggi dibandingkan pengeluarannya. Namun, perkembangan harga komoditas dan biaya produksi tetap perlu menjadi perhatian agar kesejahteraan petani dapat terus terjaga dan sektor pertanian tetap memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....