Sampah Organik SPPG di Kota Bengkulu, Mencapai Lebih dari 900 Kg Per Hari
- 07 Sep 2026 12:34 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Sampah organik dari 38 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bengkulu diperkirakan mencapai 684 hingga 912 kilogram per hari. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan produksi sampah organik setiap SPPG yang berada pada kisaran 18 hingga 24 kilogram per hari.
Akademisi Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Dr. Deri Kermelita, SKM., M.PH., mengatakan tingginya produksi sampah organik tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan yang tepat. Ia menyebut saat ini sebagian besar SPPG masih mengandalkan pengepul untuk menangani sampah organik yang dihasilkan setiap hari.
“SPPG itu sampah organiknya itu sekitar 18 hingga 24 Kg per SPPG per hari,” ujar Deri. Jika dihitung dari 38 SPPG yang terdata hingga Mei 2026, jumlah sampah organik yang dihasilkan mencapai sekitar 684 kilogram hingga 912 kilogram setiap hari.
Deri mengatakan, sampah organik dari SPPG saat ini belum seluruhnya diolah secara mandiri oleh pengelola. “Itu mereka semua saat ini hanya mengandalkan membuang sampah ke pengepul sampah dengan cara membayar, jadi tidak mengolah sendiri,” ucap Deri.
Kondisi tersebut mendorong pihaknya menyiapkan metode pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Metode ini dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai manfaat.
“Makanya kami membuat satu metode kemarin untuk SPPG ini akan kita titipkan maggot, kemudian nanti sampah organiknya diolah oleh maggot,” tutur Deri. Melalui metode tersebut, sampah organik SPPG akan dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah yang dibuang.
Maggot yang telah memasuki usia dewasa nantinya akan diambil dan dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan lele. Pengolahan tersebut dilakukan di Rumah Maggot Bina Hijau Mandiri sebagai bagian dari rangkaian pemanfaatan sampah organik.
Setelah lele dibudidayakan, hasilnya direncanakan kembali didistribusikan kepada SPPG. Pola tersebut diharapkan membentuk siklus pemanfaatan sampah organik yang memberikan manfaat bagi pengelolaan lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan pangan.
Pengelolaan menggunakan maggot juga diharapkan dapat mendorong SPPG untuk tidak hanya bergantung pada pengepul dalam menangani sampah organiknya. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mengurangi timbunan sampah organik yang berpotensi meningkat seiring bertambahnya jumlah SPPG.
Ke depan, pengelolaan sampah organik melalui metode maggot diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di SPPG. Selain mengurangi timbunan sampah, program tersebut diharapkan mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan serta mendorong SPPG mengelola sampah secara lebih mandiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....