Mengenal Fictophilia: ketika Karakter Fiktif Menjadi Tambatan Hati
- 26 Jul 2026 13:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Fenomena fictophilia merujuk pada kondisi ketika seseorang memiliki keterikatan emosional, rasa cinta, hingga daya tarik romantis atau seksual yang kuat terhadap karakter fiktif. Istilah ini mencakup berbagai media hiburan, mulai dari tokoh dalam novel, komik, anime, hingga karakter dalam gim video.
Dari sudut pandang psikologi, kondisi ini berkaitan erat dengan hubungan parasosial, yaitu keterikatan emosional satu arah yang dibentuk seseorang dengan figur media. Teori hubungan parasosial ini pertama kali dikembangkan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada tahun 1956 sebelum akhirnya diperluas ke konteks karakter fiksi.
Penelitian kualitatif oleh Veli-Matti Karhulahti dan Tanja Välisalo (2021) dalam jurnal Frontiers in Psychology mengungkapkan bahwa pelaku fictophilia umumnya tetap menyadari batas antara fiksi dan realitas. Studi tersebut menjelaskan bahwa daya tarik ini sering dipicu oleh supernormal stimuli, di mana sifat atau visual karakter fiktif dipersepsikan lebih ideal dibanding manusia nyata.
Banyak individu merasa nyaman menjalin relasi imajiner ini karena bebas dari risiko penolakan, konflik, maupun dinamika hubungan dunia nyata yang rumit. Karakter fiktif memberikan ruang aman bagi seseorang untuk mengekspresikan kasih sayang tanpa perlu menghadapi ekspektasi sosial yang memberatkan.
Secara medis, fictophilia bukanlah gangguan jiwa dan tidak terdaftar sebagai kondisi diagnostik resmi dalam DSM-5 (American Psychiatric Association) maupun ICD-11 (World Health Organization). Para pakar psikologi memandangnya sebagai bagian dari spektrum keterikatan media yang tergolong tidak berbahaya selama tidak mengganggu fungsi sosial kehidupan sehari-hari.
Meskipun makin marak di era digital, orang-orang dengan fictophilia kerap menghadapi stigma sosial dan prasangka dari lingkungan sekitar. Keberadaan forum daring dan komunitas penggemar menjadi wadah penting bagi mereka untuk saling berbagi cerita serta mendapatkan dukungan sebaya.
Pesatnya kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan interaksi avatar diprediksi akan makin mengaburkan batas interaksi antara manusia dan karakter buatan. Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bagaimana kapasitas emosional manusia mampu beradaptasi dalam merespons cerita dan imajinasi.
Sumber
- Karhulahti, V. M., & Välisalo, T. (2021).Fictosexuality, Fictoromance, and Fictophilia: A Qualitative Study of Love and Desire for Fictional Characters. Frontiers in Psychology, 11, 575427.
- Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215-229.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....