William Soeryadjaya dan Pelajaran Besar tentang Kesuksesan

  • 08 Sep 2026 16:48 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Kesuksesan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi ditempa melalui keberanian membaca peluang, menghadapi kegagalan, melewati masa sulit, dan tetap bertahan ketika keadaan berbalik arah. Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku Memoar William Soeryadjaya, “Semangat Hidup dan Pasrah kepada Tuhan”, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa, 8 September 2026.

Forum yang mengangkat perjalanan hidup salah satu tokoh penting bisnis Indonesia itu mendapat respons kuat dari generasi muda. Antusiasme peserta bahkan membuat panitia menutup pendaftaran setelah kuota 450 kursi terpenuhi.

Sekjen Mubarok Institute, Herry Purnomo, mengatakan tingginya minat peserta menunjukkan bahwa kisah perjalanan tokoh bisnis masih memiliki daya tarik bagi generasi muda. Terlebih, pengalaman William Soeryadjaya dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi anak muda saat ini.

“Acara seminar dan bedah buku ini cukup menggembirakan karena kursi terisi penuh. Bahkan kalau pendaftaran tidak ditutup, bisa membludak,” ujar Herry.

Menurut Herry, peserta tetap antusias mengikuti diskusi hingga acara berakhir. “Kemarin kita tutup di angka 450 kursi,” katanya.

Ia menilai tingginya antusiasme tersebut menjadi sinyal bahwa generasi muda membutuhkan figur dan pengalaman nyata sebagai rujukan menghadapi ketidakpastian masa depan. William Soeryadjaya dinilai tidak hanya meninggalkan perusahaan besar, tetapi juga pelajaran tentang kehidupan, usaha, dan cara bangkit dari kesulitan.

“William Soeryadjaya tidak hanya meninggalkan perusahaan besar, tetapi juga meninggalkan pelajaran tentang bagaimana menghadapi kehidupan, membangun usaha, dan bangkit ketika mengalami kesulitan,” katanya.

Seminar dibuka Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, yang menekankan pentingnya perguruan tinggi menjadi pusat pengetahuan, riset, inovasi, sekaligus tempat bertemunya gagasan dengan persoalan nyata masyarakat. Ia mengatakan kampus terus memperkuat posisi sebagai universitas yang unggul dan berdampak global.

Pengembangan riset, karya inovasi, HAKI, dan paten menjadi bagian dari pilar pengembangan kampus. Menurut Noorhaidi, di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, menghadirkan sosok William Soeryadjaya menjadi relevan bagi mahasiswa.

William bukan sekadar pengusaha, tetapi salah satu figur yang ikut membentuk perjalanan industri otomotif Indonesia melalui Astra. “William Soeryadjaya adalah figur sentral dalam sejarah bisnis Indonesia,” ujar Noorhaidi.

“Ia merupakan tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam membangun industri otomotif nasional,” kata dia.

Putra kedua William Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya, membawa peserta melihat sisi personal perjalanan sang ayah. Ia mengisahkan berbagai fase jatuh bangun William dalam membangun bisnis serta perjuangan keluarga menghadapi masa-masa sulit.

Bagi Edwin, kesuksesan keluarga bukan sesuatu yang datang dengan mudah. Ia juga mengenang ibunya sebagai sosok yang tidak mengenal kata menyerah ketika keluarga menghadapi masa sulit.

“Yang saya banggakan adalah bagaimana ibu saya tidak pernah menyerah ketika menghadapi masa-masa sulit,” kata Edwin. Ia menilai sikap tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.

Edwin juga menyampaikan kegelisahannya terhadap semakin kaburnya identitas Kijang sebagai salah satu ikon otomotif Indonesia. Menurutnya, Kijang memiliki sejarah panjang dan kedekatan emosional dengan perjalanan industri otomotif nasional.

Ia menyayangkan nama Kijang semakin tersisih oleh penggunaan nama seperti Innova dan Zenix. Menurut Edwin, sejarah Kijang tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan industri otomotif Indonesia.

Sementara itu, CEO Mubarok Institute, Fadhil As Mubarok, menantang mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi generasi yang menikmati hasil pembangunan. Ia mengajak anak muda berani membaca peluang, memahami tantangan, membangun jejaring sehat, dan memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan.

“Mahasiswa harus pandai membaca peluang, kesempatan, dan tantangan. Jangan hanya menunggu peluang datang,” ujar Fadhil. “Peluang harus dibaca, dipahami, kemudian diubah menjadi sesuatu yang produktif,” katanya.

Menurut Fadhil, perjalanan William Soeryadjaya menunjukkan bahwa membangun sesuatu membutuhkan keberanian dan ketekunan. Kesuksesan tidak diperoleh dalam waktu singkat karena selalu ada proses, risiko, kegagalan, dan keberanian untuk bangkit.

“Pak William sudah memberikan contoh bagaimana seseorang berjuang mengembangkan bisnis otomotif nasional. Itu bukan perjalanan sehari dua hari,” katanya.

“Ada proses, ada risiko, ada kegagalan, dan ada keberanian untuk bangkit,” tutur Fadhil. Ia kemudian membagi karakter perjalanan antargenerasi ke dalam empat kategori, yakni generasi pengobatan, generasi pembangun, generasi penikmat, dan generasi amburadul.

“Pertanyaannya sederhana: kita mau menjadi generasi yang mana?” ujar Fadhil. “Menjadi generasi pembangun yang meninggalkan warisan, atau generasi penikmat yang hanya menikmati warisan orang lain?” ujarnya.

Seminar nasional dan bedah buku tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, yakni Noorhaidi Hasan, Cris Kuntadi, KH Abdul Hakim M, Fadhil As Mubarok, Herry Purnomo, Edwin Soeryadjaya, dan Sandiaga Shalahuddin Uno. Forum ini tidak sekadar membedah memoar, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca kembali nilai perjuangan William Soeryadjaya.

Pembahasan mencakup etos kerja, keberanian berusaha, ketangguhan menghadapi krisis, serta nilai spiritual yang melekat dalam perjalanan hidup William. Di tengah budaya instan yang membuat banyak orang ingin memperoleh hasil tanpa melewati proses, kisah William menawarkan pesan yang berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....